Setelah event Ministerial eGovernment Conference ke-5 yang berlangsung di Malmo Swedia, menteri-menteri dari Negara yang tergabung dalam Uni Eropa sepakat untuk meningkatkan kegiatan e-government yang lebih mudah diakses, interaktif, dan terjangkau. Selain itu, mereka juga menandatangani sebuah deklarasi yang berisi kebijakan untuk menghantarkan layanan online untuk publik yang lebih pintar di tahun 2015. Deklarasi tersebut disambut gembira oleh Komisi Eropa. Sebagai bagian dari perwujudannya, pada pertengahan 2010 nanti akan dilakukan evaluasi, sudah berapa jauh agenda-agenda yang ada di deklarasi itu dilaksanakan. Dari laporan yang terakhir, tercatat sudah sekitar 71 persen layanan publik yang bisa diakses melalui portal atau website. Sudah cukup jauh, apabila dibandingkan dengan tahun 2007 yang sebesar 59 persen. Masih dari laporan itu, Inggris, Austria, Portugal, Swedia, dan Slovania berada di posisi terdepan dalam hal pelayanan publik. Sementara Polandia, Slovakia, Lithuania, dan Latvia sedang berusaha ke jalur yang lebih baik.
Tampilkan postingan dengan label E-Government. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label E-Government. Tampilkan semua postingan
Senin, 14 Desember 2009
Senin, 11 Mei 2009
PNS Mengakses Situs Porno Sebanyak 780.000 Kali
PNS satu ini memang kelewatan. Bayangkan ia mengakses situs porno di internet sebanyak 780.00 kali dalam jangka waktu 9 bulan. Atau kalau dirata-ratakan hampir sebanyak 3.000 kali klik per hari. Wah PNS di Departemen mana nih? Kok bisa separah itu. Kabar baiknya hal tersebut tidak terjadi di Indonesia tetapi justru terjadi di Jepang yang terkenal dengan budaya kerja keras, disiplin, dan tepat waktu. Tapi PNS satu ini memang lain. Puncak terparah kelakuan PNS Jepang ini terjadi di bulan Juli 2008 dimana ia mengakses situs porno sebanyak 177.00 kali, kalau dirata-ratakan sekitar 20 klik permenit. Akibat ulahnya tersebut si PNS ini diturunkan pangkatnya dan dikenakan potongan gaji sebesar $ 200 (sekitar Rp. 2.100.000). Rencananyaya di komputer yang bersangkutan ada dipasang filter untuk situs-situs porno. Masih untung tidak dipecat.
PNS ini tidak akan tertangkap ulahnya jika saja komputernya tidak terserang virus. Heran juga kenapa atasannya selama ini tidak mengawasi kinerja PNS ini … wong seharian mengakses situs porno. Apa tidak diberi pekerjaan atau tugas biar pikirannya tidak ngeres melulu. Namun hal ini tidak hanya di Jepang, di Indonesia juga banyak hanya saja tidak tereskpos. Inilah wajah birokrasi yang gemuk namun lambat bergerak karena kinerja yang tidak efektif dan efisien.
PNS ini tidak akan tertangkap ulahnya jika saja komputernya tidak terserang virus. Heran juga kenapa atasannya selama ini tidak mengawasi kinerja PNS ini … wong seharian mengakses situs porno. Apa tidak diberi pekerjaan atau tugas biar pikirannya tidak ngeres melulu. Namun hal ini tidak hanya di Jepang, di Indonesia juga banyak hanya saja tidak tereskpos. Inilah wajah birokrasi yang gemuk namun lambat bergerak karena kinerja yang tidak efektif dan efisien.
Rabu, 06 Mei 2009
Masalah dalam Perubahan Budaya Organisasi
Tidak semua orang akan menyambut perubahan dengan gembira. Para karyawan mungkin, bahkan bisa dipastikan, akan terbelah, setidak-tidak menjadi dua kelompok besar, yaitu kelompok yang setuju terhadap perubahan dan kelompok yang menentang atau resisten. Masalah yang paling sering dan menonjol dalam pengimplementasi teknologi adalah “penolakan atas perubahan itu sendiri”. Istilah yang sangat populer dalam manajemen adalah resistensi perubahan (resistance to change). Penolakan atas perubahan tidak selalu negatif karena justru karena adanya penolakan tersebut maka perubahan tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Seperti dikatakan Jane Flagello (Azizy, 2007), “Change is growth. Change is opportunity. Change increases potential.”
Penolakan atas perubahan tidak selalu muncul dipermukaan dalam bentuk yang standar. Penolakan bisa jelas kelihatan (eksplisit) dan segera, misalnya mengajukan protes, mengancam mogok, demonstrasi, dan sejenisnya; atau bisa juga tersirat (implisit), dan lambat laun, misalnya loyalitas pada organisasi berkurang, motivasi kerja menurun, kesalahan kerja meningkat, tingkat absensi meningkat, dan lain sebagainya.
Stephen P Robbins (dalam Winarndi, 2006).menyatakan bahwa semakin banyak organisasi dewasa ini menghadapi lingkungan dinamik dan banyak mengelami perubahan, serta menyebabkan timbulnya keharusan untuk berubah (Winardi, 2006). Sumber penyebab timbulnya perubahan terdapat pada karakteristik dasar manusia.. Karena persoalan kepribadian, persepsi, dan kebutuhan, maka individu punya potensi sebagai sumber penolakan atas perubahan. Ada beberapa penyebab penolakan ini :
1. Kebiasaan.
Penolakan atas perubahan tidak selalu muncul dipermukaan dalam bentuk yang standar. Penolakan bisa jelas kelihatan (eksplisit) dan segera, misalnya mengajukan protes, mengancam mogok, demonstrasi, dan sejenisnya; atau bisa juga tersirat (implisit), dan lambat laun, misalnya loyalitas pada organisasi berkurang, motivasi kerja menurun, kesalahan kerja meningkat, tingkat absensi meningkat, dan lain sebagainya.
Stephen P Robbins (dalam Winarndi, 2006).menyatakan bahwa semakin banyak organisasi dewasa ini menghadapi lingkungan dinamik dan banyak mengelami perubahan, serta menyebabkan timbulnya keharusan untuk berubah (Winardi, 2006). Sumber penyebab timbulnya perubahan terdapat pada karakteristik dasar manusia.. Karena persoalan kepribadian, persepsi, dan kebutuhan, maka individu punya potensi sebagai sumber penolakan atas perubahan. Ada beberapa penyebab penolakan ini :
1. Kebiasaan.
Kebiasaan merupakan pola tingkah laku yang kita tampilkan secara berulang-ulang sepanjang hidup kita. Kita lakukan itu, karena kita merasa nyaman, menyenangkan. Jika perubahan berpengaruh besar terhadap pola kehidupan tadi maka muncul mekanisme diri, yaitu penolakan.
2. Rasa aman
Jika kondisi sekarang sudah memberikan rasa aman, dan kita memiliki kebutuhan akan rasa aman relatif tinggi, maka potensi menolak perubahan pun besar. Mengubah cara kerja padat karya ke padat modal memunculkan rasa tidak aman bagi para pegawai. Ketakutan bahwa mereka akan kehilangan pekerjaan karena tergantikan oleh teknologi (Indrajit, 2005).
3. Faktor ekonomi
Faktor lain sebagai sumber penolakan atas perubahan adalah soal menurun-nya pendapatan. Kesadaran bahwa dengan adanya teknologi maka mereka akan kehilangan pendapatan tidak resmi yang kerap diperoleh sehari-hari (Indarjit, 2005). An internal boundary, mungkin istilah yang sesuai untuk hal ini dimana secara internal perubahan itu tidak direspon secara positif oleh para pegawai karena takut kehilangan “rente” yang selama ini mereka nikmati (Indiahono, 2006).
4. Takut akan sesuatu yang tidak diketahui
Sebagian besar perubahan tidak mudah diprediksi hasilnya. Oleh karena itu muncul ketidak pastian dan keragu-raguan. Kalau kondisi sekarang sudah pasti dan kondisi nanti setelah perubahan belum pasti, maka orang akan cenderung memilih kondisi sekarang dan menolak perubahan.
5. Persepsi
Persepsi cara pandang individu terhadap dunia sekitarnya. Cara pandang ini mempengaruhi sikap.
2. Rasa aman
Jika kondisi sekarang sudah memberikan rasa aman, dan kita memiliki kebutuhan akan rasa aman relatif tinggi, maka potensi menolak perubahan pun besar. Mengubah cara kerja padat karya ke padat modal memunculkan rasa tidak aman bagi para pegawai. Ketakutan bahwa mereka akan kehilangan pekerjaan karena tergantikan oleh teknologi (Indrajit, 2005).
3. Faktor ekonomi
Faktor lain sebagai sumber penolakan atas perubahan adalah soal menurun-nya pendapatan. Kesadaran bahwa dengan adanya teknologi maka mereka akan kehilangan pendapatan tidak resmi yang kerap diperoleh sehari-hari (Indarjit, 2005). An internal boundary, mungkin istilah yang sesuai untuk hal ini dimana secara internal perubahan itu tidak direspon secara positif oleh para pegawai karena takut kehilangan “rente” yang selama ini mereka nikmati (Indiahono, 2006).
4. Takut akan sesuatu yang tidak diketahui
Sebagian besar perubahan tidak mudah diprediksi hasilnya. Oleh karena itu muncul ketidak pastian dan keragu-raguan. Kalau kondisi sekarang sudah pasti dan kondisi nanti setelah perubahan belum pasti, maka orang akan cenderung memilih kondisi sekarang dan menolak perubahan.
5. Persepsi
Persepsi cara pandang individu terhadap dunia sekitarnya. Cara pandang ini mempengaruhi sikap.
Langganan:
Postingan (Atom)