Tampilkan postingan dengan label Teknologi dan Masyarakat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi dan Masyarakat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Mei 2014

Bi-Pro Magazine Menuju Situs Nomor 1 Bipro (Bisnis dan Promosi)

Bi-pro Magazine kini telah hadir dalam blantika pemberitaan di media internet melalui situs www.bipro-magazine.com.  Situs yang launching pada pukul 10.00 WIB tanggal 11 Desember 2013 di Pekan Baru.  Waktu launching dilambangkan sebagai deretan angka 10 11 12 13 (nomor cantik) mempunyai makna khusus yakni peningkatan.  Terus menanjak dan berkembang tak hanya dari segi kuantitas tetapi kualitas berita.    
Bi-pro sendiri diambil dari penggalan dua kata yaitu Bisnis dan Promosi.  Ini sebagai pembeda dengan situs lainnya.    Bi-pro Magazine memfokuskan pada publikasi dan promosi kegiatan pemerintah, perusahaan swasta, BUMN, maupun pribadi.   Lalu mengapa Bi-pro Magazine bukan Bi-pro news atau newspaper?  Bukankah magazine  sifat pemberitaannya lebih berkala sedangkan news selalu update setiap saat.  


Dari profil situs Bi-pro Magazine sendiri terjawab, bahwa situs ini berbeda dengan news portal lain dengan liputan yang lebih terencana, terarah, dan komunikatif serta selalu update setiap saat.  Selain itu adanya AFTA (Asean Free Trade Agreement) pada 2015 membuat persaingan di dunia publikasi dan promosi akan semakin penting bagi perusahaan di Indonesia untuk bersaingan dengan perusahaan ASEAN lainnya.  Di sinilah letak peran Bi-pro Magazine untuk membantu mengembangkan iklim investasi di Indonesia.  
Saat ini memang masyarakat membutuhkan data yang cepat dan akurat serta dimana saja mengenai bisnis dan properti.   Era mobile data menjadi faktor utama pendorong peralihan life style masyarakat dalam mencari berita dan informasi.   Sehingga orang sedang di bus, bandara, ruang tunggu, dan tempat lainnya dapat mengakses infomasi.    Sebab itu Bi-Pro Magazine kini hadir di adroid dan dapat didownload di situs mereka.   Di sini terlihat bahwa managemen Bi-Pro Magazine jeli melihat pasar.  Diperkirakan tahun ini perkembangan pengguna adroid meningkat 189 persen dibanding tahun lalu.



Belakangan semakin banyak perusahaan mengubah bidang usaha media cetak mereka menjadi media digital. Beberapa contoh perusahaan yang menutup usaha koran atau majalah menjadi digital seperti seperti Newsweek, The Miami Herald, The Detroit News, Boston Globe, dan Asian Week.   Mereka menyadari potensi besar industri digital hingga hampir semua surat kabar besar mempunyai situs berita.   Persaingan di media digital menjadi semakin panas dan ketat.    Bi-pro Magazine menyadari akan potensi dari market ini terutama terkait biang bisnis dan promosi. .      
Bi-pro Magazine menyediakan berbagai informasi yang dibutuhkan masyarakat.  Berbagai informasi tersedia di website ini.  Dari webite tersedia berbagai ragam berita mengenai bisnis, informasi, dan pariwisata.  Selain itu dalam situs Bi-pro Magazine juga ada beberapa informasi lainnya seperti produk, fashion, kuliner, budaya, dan hotel. 
Dalam situs Bi-pro Magazine juga terdapat update berita mengenai perbankan, inverstasim, properti, socmed, hiburan.  Namun ada satu informasi yang rasanya perlu ditambahkan yaitu kesehatan. Biasanya otang sering mencari infomasi perkembangan kesehatan di situs e-magazine
Jadi bisa dikatakan Bi-pro magazine sebagai sebuah one stop shopping market di dunia digital. Hanya dengan membuka situs Bi-pro Magazine kita bisa mendapatan berbagai macam informasi.  Bi-pro Magazine membuat pembacanya menjadi lebih pintar.  
Untuk menjadi nomor 1 memang masih banyak yang harus dibenahi dan dihadapi Bi-pro Magazine mengingat umur situs ini belum genap satu tahun.   Persaingan akan semakin ketat dimana ada e-magazine lain yang siap untuk bersaing seperti kompas.com, detik.com, republika.co.id, dan masih banyak lagi.
Hal  ini jelas dalam visinya menjadikan Bi-pro Magazine sebagai situs informasi bisnis dan promosi (bi-pro) nomor 1.  Ada satu yang rasanya perlu ditambah dalam Bi-pro Magazine situs.  Adanya tagline yang mendekatkan diri di hati pembacanya.  Orang akan langsung teringat Nokia ketika membaca Connecting People, Just Do It terbanyak produk Nike atau Yamaha ketika teringat kata Semakin di Depan.  
Seperti kata para ahli branding, tagline erat kaitannya dengan positioning seluruh produk atau jasa.   Nah, untuk Bi-pro Magazine perlu dipikirkan kata apa yang pantas untuk menggambarkan situsnya tersebut.   Bila perlu adakan pula lomba tagline Bi-ProMagazine sebagai langkah mendekatkan diri kepada pembaca sekaligus media promosi.  Seperti yang dilakukan Bi-ProMagazine saat ini dengan menggelar lomba karya tulis bloger dengan hadiahtotal puluhan juta rupiah.
Ini menjadi tantangan bagi Bi-pro Magazine.   Bi-Pro Magazine harus lebih sering mempromosikan diri.  Untuk itu Bi-pro Magazine menjalin kerjasama dengan berbagai media baik online maupun media cetak.  Ini sebuah langkah baik untuk memperluas jangkauan pembaca.  Terus terang, sebagai sebuah media online baru masyarakat masih belum banyak yang mengetahui sepak terjang Bi-pro  Magazine.  Seperti pepatah tua, tak kenal maka tak sayang.
Dengan usia Bi-pro Magazine yang masih sangat muda semua ini akan menjadi tantangan untuk menjadi nomor satu mengingat telah ada situs-situs lain yang ada lebih dulu dan mapan.   Seperti salah bait dalam puisi Wiji Thukul, Maka hanya ada satu kata : lawan!  Pembaca tahu mana yang terbaik buat mereka dan Bi-pro Magazine hadir untuk itu.  
Maju terus, Bi-pro Magazine.  




Kamis, 30 Desember 2010

USO ORA ISO? CSR ISO. Peran Operator Seluler dalam Meningkatkan Perekonomian Daerah Tertinggal.

[i]

Oleh Herman Wahyudhi

PENDAHULUAN
Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal, Ahmad Helmy Faishal Zainal dalam sebuah semiloka mengenai Pengetasan Daerah tertinggal di Jakarta beberapa wakrtu yang lalu mengungkapkan bahwa di Indonesia terdapat 92 pulau terluar yang terisolir dan 183 Kabupaten yang dinyatakan tertinggal. Kementeriaan Pembangunan Daerah Tertinggal menginginkan agar daerah tertinggal dan desa sebagai daerah pertumbuhan baru. Masyarakat di daerah tertinggal memiliki keterbatasan dalam mengakses informasi untuk meningkatkan taraf kesejahteraan mereka. Padahal Pasal 28 F dari Amandemen Kedua Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan bahwa :
“Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.”
Ada beberapa isu-isu penting harus dipahami dan dicarikan jalan keluarnya apabila bebicara tentang daerah tertinggal. Pertama adalah keterisolasian, kedua adalah lemahnya sumberdaya manusia (SDM) dan ketiga adalah infrastruktur. Untuk mengurangi keterisolasian perlu bantuan teknologi telekomunikasi dan informasi. Aspek ini memiliki peranan penting dalam mempercepat proses pembangunan daerah-daerah terisolasi dan tertinggal.
Selama ini produk-produk yang dihasilkan oleh daerah tertinggal dan daerah pedalaman pendistribusiannya hanya berputar-putar di sekitar daerah mereka saja. Padahal produk yang dihasilkan akan mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi bila dipasarkan ke daerah-daerah perkotaan. Namun keterbatasan informasi di daerah-daerah tertinggal membuat produk-produk mereka tidak dikenal seperti kata pepatah, tak kenak maka tak sayang.
Disinilah letak pentingnya peran operator seluler sebagai bagian dari industri telekomunikasi sebagai entitas yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan pembangunan di daerah tertinggal. Namun membangun base transceiver base station (BTS) di daerah tertinggal dan terpencil tidak menghasilkan keuntungan bagi operator karena jumlah pelanggan di wilayah tersebut relative kecil. Padahal menurut International Telecommunication Union (ITU) peningkatan sebesar 1 persen dalam penetrasi telepon seluler di ssejumlah negara berkembang berkorelasi dengan peningkatan penghasilan per kapitas sebesar 4,7 persen. Industri telepon fixed line yang lebih dulu dikenal masyakat saat ini penetrasinya kurang dari 5 persen. Sementara menurut Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia (ATSI), industri seluler yang baru dikenal selama 15 tahun memiliki penetrasi mendekati 80 persen dengan jumlah pelanggan 180 juta[ii]. Namun kepemilikian telepon seluler ini masih tidak merata dan sebagian besar kepemilikannya masih berpusat di wilayah perkotaan.

Kompetisi sektor telekomunikasi di Indonesia dengan tujuan percepatan peningkatan teledensitas sejatinya akan meningkatkan ekonomi Indonesia khususnya di desa-desa, daerah tertinggal, perbatasan dan kepulauan serta membuka lapangan kerja baru pada industri telekomunikasi, memperkecil kesenjangan digital dan memajukan rakyat di pedesaan dengan teknologi telekomunikasi dan informasi. Contoh daerah yang berhasil keluar dari ketertinggalan berkat adanya sarana telekomunikasi dan informasi adalah Kabupaten Sambas. Melalui program bantuan Pembangunan Desa Informasi dari Departemen Komunikasi dan Informasi sejak tahun lalu sudah keluar dari status daerah tertinggal karena adanya bantuan teknologi informasi dan komunikasi sehingga desa-desa di Kabupaten Sambas menjadi masyarakat informasi yang mandiri. Masuknya teknologi telekomunikasi dan informasi membuat masyarakat yang ada di wilayah Sambas dapat lebih mudah memperoleh informasi. Pembentukan desa informasi yang pertama di Indonesia ini dilandasi denan keinginan untukmewujudkan adanya komunikasi yang lancar daninformasi yang segar secara merata di seluruh Indonesia, khususnya bagi daerah di wilayah perbatasan, terpencil, dan tertinggal.

DIGITAL DIVIDE DAN PASAR ASIMETRIS
Konvergensi teknologi telekomunikasi dan informasi diproyeksi dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kenyataannya, akses kepada teknologi tersebut belum merata. Bahkan negara dengan infrastruktur teknologi digital yang maju seperti Amerika Serikat masih terdapatan kesenjangan digital (digital divide) apalagi negara berkembang seperti Indonesia, digital divide ini pasti lebih lebar lagi. Terminologi kesenjangan digital (digital divide) diartikan sebagai kedaan dimana dunia terbagi dalam dua kelompok dari kemampuan mengakses teknologi telekomunikasi dan informasi seperti telepon seluler, internet, dan televisi. Kondisi ini biasanya terjadi di daerah perkotaan dan daerah pinggiran (termasuk daerah tertinggal). Kesenjangan digital ini pada akhirnya membuat kesenjangan akses masyarakat kepada informasi juga semakin lebar.
Adanya kesenjangan informasi ini melahirkan apa yang disebut sebagai hidden informasi (Hirshleifer & Riley, 1994: 307, menyebutnya hidden knowledge) adalah suatu transaksi yang salah satu pihak memiliki informasi lebih baik tentang transaksi tersebut. Pada kondisi ini berarti informasi tidak terdistribusi secara seimbang, yang kemudian dikenal sebagai ketidakseimbangan informasi. Informasi yang kurang lengkap membuat system insentif tidak bekerja sempurna. Bagi mereka, kegagalan mekanisme pasar disebabkan ketidaksanggupan melengkapi informasi. Maka tak aneh bila orang Perancis punya pepatah kuno: "orang bodoh lebih sering berperan sebagai pembeli daripada sebagai penjual".

Daerah perkotaan dengan akses informasi yang lebih baik memiliki peluang ekonomi lebih besar dibandingkan wilayah perdesaan yang rata-rata tertinggal. Hal inilah yang dirasakan China dan India, dimana posisi tawar masyarakat di daerah tertinggal selalu lebih lemah karena keterbatasan sarana telekomunikasi dan informasi.
Pemerintah China menyadari adanya gap antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Kesejangan kesejahteraan dan konektivitas nirkabel antara kota-kota di pesisir timur dengan daerah pedalaman di belahan barat China cukup signifikan. Bahkan menurut laporan Kementerian Industri Informasi (MII), penertrasi ponsel di Cina masih di bawah 40 persen, meski di sejumlah perkotaan mencapai 90 persen. Untuk mengatasi hal tersebut, Cina melaksanakan proyek yang bernama Wireless Reach, program ini bertujuan untuk memanfaatkan kemajuan teknologi nirkabel untuk kemajuan masyarakat yang berkesinambungan di tiga propinsi di barat China, yaitu Shaanxi, Guizhou, dan Ningxia. Bekerjasama dengan China Unicom dan sebuah lembaga swadaya masyarakat internasional, Planet Qualcomm menyumbangkan 2.000 ponsel CDMA2000 berikut kartu pra-bayar dan voucher isi ulang bulanan (berlaku hingga dua tahun) sumbangan China Unicom.
Penerima ponsel tersebut adalah petugas penyalur pinjaman keuangan mikro atau krediro dengan catatan kinerja baik dan terarut mengikuti program-program pelatihan Planet Finance. Voucher dari China Unicom mencakup layanan SMS mingguan, yang memungkinkan PlaNet Finance member informasi tentang harga danpinjaman kepada para mitra dan penerima pinjaman. Ponsel CDMA2000 sumbangan itu juga memperluas akses penerimanya pada pasar, hingga tidak perlu lagi melakukan perjalanan yang memakan waktu dan memudahkan menerima pinjaman dari keuangan makro. Adanya bantuan dari Pemerintah China dan operator seluler telah membantu pemerataan pendapatan ekonomi. Maka tak aneh bila China saat ini telah tumbuh menjadi raksasa terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat dengan total produk domestic bruto (PDB) nominal 5,7 triliun dollar AS sampai Oktober 2010. China juga memiliki cadangan terbesar di sunia yakni 2,65 triliun dolar AS atau sekitar 30 persen dari total cadangan devisa dunia (Bandingkan dengan cadangan devisa Indonesia yang sementara ini baru mencapai 91,8 miliar dollar AS).
Di India, petani pun bisa sukses berkat telepon seluler. Penggunaan ponsel di negara itu menjadi pendorong utama pertumbuhan pendapatan. Pengguna telepon seluler di wilayah-wilayah pedesaan di India paling menikmati layanan-layanan seperti informasi pertanian (40 persen), hiburan dan music (16 persen), dan jasa keuangan (8 persen), seperti untuk pembayaran dan pengiriman uang bergerak (e-banking). Para petani tembakau di kawasan India pendapatan hasil panennya meningkat sejak menggunakan internet dibandingkan dengan cara konvensional. Berkat system online yang di beri nama “e-shaupal” atas prakarsa Indian Tobacco Co (ITC) para petani di kawasan tersebut dapat langsung memasok kebutuhan ITC tanpa perantara. Dan berkat sistem ini pendapatan para petani tembakau naik hingga 25%.


USO DALAM MENGATASI DIGITAL DIVIDE DI DAERAH TERTINGGAL
Pasar yang tidak simetris menurut ekonom Stigler bahwa keterbatasan peran pasar akibat informasi yang tidak lengkap diharapkan bisa diatasi dengan regulasi yang dikenal dengan “teori ekonomi regulasi” dengan memusatkan perhatian untuk menerangkan siapa yang mendapat manfaat dan menanggung beban atas suatu regulasi.[iii] Lain ladang lain belalang, lain negara lain pula regulasi yang dikeluarkan Pemerintah Indonesia guna melakukan percepatan perekonomian daerah tertinggal yang dilaksanakan.

Salah satu upaya pemerintah di bidang telekomunikasi yang bertujuan mempercepat akselerasi pembangunan daerah tertinggal adalah melaksanakan program USO (Universal Service Obligation). Istilah Universal Service tercatat pertama kalinya dalam kosakata sektor telekomunikasi pada tahun 1907. Saat itu Presiden perusahaan telekomunikasi terkemuka AT&T, Theodore Vail, mempopulerkan slogan “One System, One Policy, Universal Service” dalam laporan tahunan perusahaan tersebut berturut-turut hingga tahun 1914. Program USO dibiayai oleh para penyelenggara telekomunikasi (penyelenggara jaringan telekomunikasi dan atau penyelenggara jasa telekomunikasi) yang beroperasi di Indonesia. Caranya dengan melakukan pembayaran kontribusi kewajiban pelayanan universal (KKPU) kepada pemerintah setiap triwulan, yang besarnya dihitung berdasarkan prosentase tertentu dari pendapatan kotor penyelenggara telekomunikasi setiap tahun buku.
Melalui Peraturan Menteri Komunikasi Dan Informatika Nomor: 05 /PER/M.KOMINFO/2/2007, 28 Februari 2007, ditegaskan bahwa perhitungan pembayaran KKPU oleh penyelenggara telekomunikasi dilaksanakan berdasarkan perhitungan sendiri (self assessment) dengan menggunakan laporan keuangan yang ditandatangani oleh pejabat perusahaan yang berwenang. Pembayaran kepada pemerintah dilakukan melalui Kas BTIP, PPK-BLU (Balai Telekomunikasi dan Informatika Perdesaan, Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum) melalui rekening Kepala BTIP Ditjen Postel pada Bank Pemerintah. Kewajiban USO dari penyelenggara telekomunikasi awalnya 0,75% sekarang naik menjadi 1,25 persen untuk akselerasi pembangunan backbone telekomunikasi.
Ada beberapa tujuan dalam pelaksanaan program USO di antaranya :
a. meningkatkan produktifitas dan pertumbuhan ekonomi daerah-daerah tertinggal;
b. mengurangi kesejangan digital (digital divide) antara wilayah perkotaan dengan daerah pinggiran;
c. meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat di daerah teringgal;
d. menghilangkan kesenjangan sosial dan asismetris informasi dalam kegiatan ekonomi;
e. mengurangi pengangguran dengan menciptakan lapangan kerja di daerah; dan
f. mengurangi arus urbanisasi serta pemerataan populasi.

Negara Inggris termasuk salah satu negara industri maju dengan pendapatan perkapita penduduknya mencapai US$ 35,286 yang sudah menerapkan USO sejak beberapa tahun lalu. Ofcom (office of communications) yang merupakan lembaga regulasi telekomunikasi dan penyiaran di Inggris mendifinisikan bahwa Universal Service adalah menyediakan jaringan telekomunikasi yang aman dan dapat menjamin layanan basic fixed line tersedia dengan harga yang terjangkau bagi semua warga negara Inggris. Pertimbangan keadilan sosial dan kebutuhan ekonomi merupakan dua pertimbangan bagi penyelenggaraan USO.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Ericsson, Earth Institute, dan Milennium Promise, telepon seluler juga mendatangkan manfaat social dan financial bagi penduduk pedesaan di daerah-daerah tertinggal[iv]. Tersedianya layanan seluler di daerah tertinggal meningkatkan berbagai layanan social, seperti kesehatan, pendidikan,dan pengembangan usaha kecil. Telepon seluler sedikitnya 6.000 orang per tahun bisa diselamatkan di negara-negara yang disurvei. Hasil penelitian itu menunjukkan usaha kecil juga merasakan manfaat, khususnya dalam menghemat biaya-biaya transportasi. Tiga dari empat orang yang disurvei juga merasakan manfaat sosial atau finansial dengan menggunakan telepon seluler.


AKAHKAN USO MENYELESAIKAN MASALAH?
Uso ora iso di atas merupakan plesetan dari iso ora iso dalam bahasa Jawa yang artinya bisa atau tidak bisa? Sanggupkah USO untuk mempercepat pembangunan ekonomi di daerah-daerah tertinggal?
Tanyakanlah pada rumput yang bergoyang, begitu mungkin kata sebagian orang. Tapi penulis punya jawaban sendiri, bahwa tentu saja tidak bisa bila hanya mengandalkan USO untuk mengangkat perekonomian daerah. Perlu pemberdayaan masyarakat (SDM) di daerah-daerah tertinggal tersebut. Bahwa selama ini ada salah kaprah yang menganggap teknologi sebagai dewa yang membawa perubahaan di masyarakat. Pemberlakuan paham determinisme teknologi ini dapat dikenali misalnya dalam pernyataan seperti “USO akan memberantas ketertinggalan daerah” atau “teknologi informasi akan mencerdasakan masyarakat”, atau “penguasaan sains dan teknologi akan memajukan daerah-daerah tertinggal”. Pernyataan-pernyataan tersebut jelas menunjukkan bahwa teknologi menyebabkan perubahan sosial. USO menyarankan suatu determinisme teknologi, bahwa teknologi akan mengubah perilaku para pembuat keputusan dalam organisasi masyarakat di daerah tertinggal. Ini kesalahan umum para pemangku kebijakan (stakeholders) bahwa dengan implementasi teknologi telekomunikasi di suatu daerah tertinggal maka daerah itu akan maju karena teknologi memaksa masyarakat untuk mengikutinya.
Hal ini dalam analisis Andrew Feenberg ditemukan setidaknya ada dua premis yang menunjukkan kelemahan dari paham determinasi teknologi. Pertama, bahwa teknologi berkembang secara uniliner atau garis lurus dari teknologi yang sederhana menuju kompleks. Kedua, bahwa masyarakat dalam paham ini bersikap pasif dan menerima begitu saja teknologi yang ada. Maka lahirlah paham Social Construction of Technologi (SCoT) yang dipelopori Wiebe Bijker dan Trevor Pinch bahwa masyarakatlah yang menentukan apakah suatu teknologi itu diterima atau tidak. SCoT merupakan suatu deteriminisme sosial, memberlakukan determinasi yang berlawanan arah dengan determinisme teknologi. Dalam determinisme sosial, bahwa kehendak dan keputusan masyarakatlah yang menentukan efek-efek dari kehadiran teknologi. Dalam model ini, teknologi dipandang sebagai alat atau media yang patuh terhadap kehendak sosial.
Paham SCoT yang dijelaskan diatas pun masih mengalami beberapa kritikan. Langdon Winner mengkritik SCoT terlalu apolitis dan tidak menghiraukan konsekuensi sosial dan pilihan teknologi. Sedangkan Hans Klein dan Daniel Kleineman mengkritik karena peran individu terlalu besar dibandingkan peran struktur sosial itu sendiri. Klein dan Kleineman juga menyoroti satu fator penting yang berperan besar dalam perkembangan teknologi adalah factor kekuasaan. SCoT mengesamping adanya kekuasaan yang menggerakan perubahan sosial dan terlalu menitikberatkan pada kemampuan individu untuk menggerakkan perubahan sosial.
Kekuasaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia[v] adalah kuasa (untuk mengurus, memerintah, dsb), bisa juga berarti kemampuan; kesanggupan. Dari kedua definisi tersebut dapat dianologi bahwa kekuasaan terletak pada Pemerintah (yang mempunyai kuasa) dan operator seluler yang mempunyai kemampuan atau kesanggupan dalam menyediakan layanan teknologi telekomunikasi dan informasi. Sehingga kekuasaan dalam mengenalkan teknologi dalam ini dilakukan oleh Pemerintah yang mempunyai wewenang untuk memerintah dan operator seluler yang mempunyai kemampuan untuk menyediakan teknologi tersebut.

CSR SEBAGAI PENDUKUNG USO
USO hanyalah sebuah teknologi telekomunikasi backbone. Bahwa teknologi hanya sebagai alat bukan tujuan (technology is tools not goal) tetapi orang yang mengoperasikan teknologi tersebut (man behind machine). Seperti juga dikemukan oleh Bill Gates : “Technology is just a tool. In terms of getting the kids together and motivating them, the teacher is the most important.”
Sama halnya dengan USO, semua tergantung dari pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Dalam Jejaring-aktor atau Actor Network Theory (ANT) disebutkan bahwa antara dunia sosial dengan sains dan teknologi, terjalin relasi-relasi yang membangun hibrida sosio-teknis. Bahwa keberhasilan program USO melibatkan relasi-relasi dari aktor-aktor yaitu Pemerintah (regulator), operator seluler (produsen), masyarakat (user) serta teknologi backbone itu sendiri. Bahwa entitas manusia dan non-manusia yang mendorong dan terlibat atau dilibatkan dalam proses ini menjadi saling terpautkan dan mengalami perkembangan melalui interaksi-interaksinya.
Interaksi antara pemerintah dan operator seluler, Pemerintah Indonesia bisa meniru kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah China dengan menggandeng operator seluler dan industri perbankan untuk menyediakan telepon seluler gratis yang dibagikan kepada penyuluh di daerah. Pemerintah juga perlu menggandengkan industri perbankan untuk membantu penyaluran kredit mikro di daerah tertinggal. Penyuluh juga dapat berperan sebagai penyalur pinjaman mikro untuk pengembangan kegiatan ekonomi di daerah yang perlu diatur lagi dalam pelaksanaannya. Adanya bantuan telepon gratis ini maka penyuluh akan dapat membantu memberi pelatihan kepada masyarakat. Seperti efek domino atau getuk ular, pengetahuan tersebut akan disebarkan kepada masyarakat yang lain. Sehingga pada akhirnya para petani dapat memonitoring harga-harga hasil tani di daerah sekitarnya untuk mencari pembeli yang terbaik. Juga dapat digunakan untuk menegosiasikan harga serta menjadi media promosi yang efisien dan efektif. Tak aneh kelak para petani mempromosikan produknya melalui website, blog, facebook, atau twitter. Contohnya ada beberapa industri skala rumah tangga yang bisa mengekspor produknya ke mancanegara berkat menggunakan media promosi melalui internet (penetrasi internet di Indonesia sendiri masih jauh di bawah negara-negara tetangga, yakni di bawah 10 persen. Sedangkan Malaysia dan China sudah di atas 50 persen. Apalagi jika dibanding negara-negara maju, yang mencapai 70 persen lebih, Indonesia jauh tertinggal).
Namun, ketersediaan akses terhadap teknologi informasi saja tidak cukup karena tidak semua orang khususnya masyarakat yang baru mengenal teknologi informasi untuk pertama kali langsung merasa perlu sesuai kebutuhannya. Masih banyak warga di daerah tertinggal dan daerah pedalaman yang belum pernah mengoperasikan bahkan mengenal telepon seluler. Artifak teknologi tersebut masih dianggap sebagai benda asing yang belum diketahui apa manfaatnya buat mereka. Selama ini mereka masih melakukan cara berkomunikasi secara konvensional seperti tatap muka (face to face) atau surat menyurat.
Inilah perlunya interaksi antara Pemerintah dan operator seluler dengan masyarakat pengguna melalui program pendampingan. Pendampingan yang erat terhadap pemanfaatan teknologi merupakan faktor penting. Tanggung jawab ini tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada Pemerintah mengingat keterbatasan SDM dan dana yang ada pada instansi-instansi terkait. Dalam ANT, operator seluler sebagai produsen memiliki peran penting untuk mendorong interaksi antara masyarakat dengan teknologi yang ada dalam program USO.
Peran operator seluler selain diperlukan melalui keikutsertaan dalam program USO, juga diperlukan dalam program pendampingan. Operator seluler dapat membantu program pendampingan ini melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). CSR merupakan salah satu bentuk program bakti sosial sebagai bentuk kontribusi operator seluler kepada masyarakat. Operator seluler dapat memberdayakan SDM yang ada di dalam ada di luar organisasi untuk mensosialisasikan USO. Seperti dijelaskan sebelumnya, agar USO bisa sukses diterima oleh masyarakat perlu dilakukan pendekatan sosial kepada para pelaku kegiatan ekonomi di daerah.
Dalam undang-undang no. 16 tahun 2006 tantang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, disebutkan bahwa penyuluh adalah perorangan warga Indonesia yang melakukan kegiatan penyuluhan dibidang pertanian, baik merupakan penyuluh PNS, swasta maupun swadaya. Adapun yang menjadi tugas pokok penyuluh adalah menyiapkan, melaksanakan, mengembangan, mengevaluasi dan melaporkan kegiatan penyuluhan pertanian, sehingga penyuluh dituntut mampu melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai penyuluh dilapangan dengan menjadi mitra kerja petani yang berperan sebagai fasilitator. Jadi tenaga penyuluh menurut undang-undang ini bisa melalui peran serta Pemerintah atau operator seluler.
Operator seluler dapat menyediakan tenaga penyuluh yang mengerti mengenai teknologi telekomunikasi dan informasi serta potensi yang ada di daerah setempat seperti pertanian, peternakan, dan perikanan (e-education). Banyaknya lulusan sarjana bidang tersebut dapat membantu mendampingi masyarakat di daerah pedalaman dan tertinggal agar dapat memahami teknologi telekomunikasi dan informasi seperti pemanfaatan telepon seluler, word processor, browsing, sms, bahkan e-commerce. Dewasa ini dapat dikatakan bahwa para sarjana sudah menguasai dasar-dasar teknologi telekomunikasi dan informasi tersebut. Ini dapat meningkatkan SDM di daerah sekaligus mengurangi pengangguran serta urbanisasi. Jarak dan waktu tidak lagi menjadi masalah dengan adanya teknologi telekomunikasi dan informasi. Pendampingan juga dapat dilakukan dengan menugaskan petugas dari operator seluler untuk membantu pelatihan dan pemahaman terhadap teknologi tersebut.
Selain pendampingan, operator CSR dapat membantu masyarakat di daerah-dearah tertinggal dengan memberikan bantuan telepon seluler seperti yang dilakukan Planet Qualcomm di China tentu saja melalui seleksi dan penilaian yang dilakukan oleh para penyuluh. Hanya warga masyarakat yang memenuhi kriteria tertentu yang bisa memperoleh bantuan telepon seluler gratis. Selain itu perlu subsidi voucher pulsa gratis selama beberapa bulan untuk membantu masyarakat berkomunikasi. Bantuan dalam bentuk genset atau panel tenaga surya juga diperlukan untuk mengatasi kendala keterbatasan sumber daya listrik. Suatu paradoks bila suatu daerah telah memiliki USO namun masyarakat tidak dapat memanfaatkannya karena tidak ada listrik untuk mengoperasikannya. Telepon seluler pun akhirnya jadi artifak teknologi yang tidak berguna karena masyarakat tidak dapat mengisi ulang baterainya.
Operator seluler juga dapat mengembangkan pusat kegiatan (community center) dimana terdapat kegiatan belajar mengajar, diskusi, pengenalan intenet, serta penyuluhan yang bisa melibatkan banyak warga masyarakat di daerah tertinggal. Bila community center ini bisa berjalan dengan baik maka bisa ditingkat dengan membangun hot-spot agar terkoneksi dengan internet. Hal serupa juga sedang dikembangkan negara tetangga Malaysia melalui kegiatan kampong wifi-nya. Operator seluler juga dapat menyediakan konten-konten gratis yang berhubungan dengan informasi pertanian, perikanan, dan kehutanan. Seperti hasil survei di daerah-daerah tertinggal di India bahwa sekitar 40 persen pengguna telepon seluler mengakses informasi mengenai pertanian. Tidak salah bila teknologi telekomunikasi dan informasi menjadi kunci percepatan dalam pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) pada tahun 2015.
Satu hal lagi, percepatan perekonomian daerah tertinggal dapat dilakukan melalui penyaluran kredit usaha mikro dengan perantara para tenaga penyuluh seperti yang dilakukan oleh Pemerintah China. Penyuluh inilah yang berhubungan dengan pihak perbankan untuk menyalurkan kredit mikro tersebut. Para penyuluh melakukan penilaian terhadap para calon debitur apakah layak untuk menerima kredit atau tidak. Pihak operator seluler juga bisa menjadi kreditur dalam pendanaan kredit mikro ini karena jumlah dana yang disalurkan relatif kecil namun jumlah tersebut sangat berarti bagi masyarakat di daerah-daerah tertinggal. Bisa dibayangkan berapa banyak warga masyarakat yang terbantu melepaskan diri dari jerat kemiskinan melalui program USO dan CSR ini.
USO ora iso, CSR iso. Peran operator seluler melalui CSR pada akhirnya bisa memaksimalkan USO, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memajukan perekonomian daerah tertinggal. Selain itu, kerjasama dan interaksi intensif para aktor dalam ANT juga membantu mempercepat pencapaian tujuan program USO. Maka kelak orang tak lagi mengenal CHINDIA (yaitu kekuatan ekonomi China dan India) tetapi CHINESIA (kekuatan ekonomi China dan Indonesia).








Rabu, 22 Juli 2009

Angka IQ Rendah Terkait Polusi Udara


Para ilmuwan untuk pertama kalinya mengaitkanlangsung paparan polusi udara sebelum bayi lahir dengan rendahnya tingkat kecerdasan intelligence quotient (IQ). Ini menegaskan bahwa asap polusi membahayakan perkembangan otak. Ini merupakan hasil studi terhadap para perempuan yang mengandung 249 anak yang lahir di New York City. Para perempuan hamil ini dipasangi tas untuk memonitor kualitas udara selama 48 jam. Anak yang lahir kemudian dites IQ pada usia 5 tahun. Hasilnya angka rata-rata terpaut lima poin di bawah angka rata-rata IQ normal. Hasil penelitian tersebut dimuat di majalah Pediatrics edisi Agustus yang terbit pada tanggal 20 Juli 2009.

Senin, 22 Juni 2009

Filter Penyaring Arsenik


Jutaan orang di Bangladesh harus mengonsumsi air minum terkontaminasi arsenik, penyebab gangguan syaraf, fungsi organ, hingga kematian. Untuk itu, peneliti dari IBM mengembangkan material baru yang disebut heksafluoroalkohol. Filter ini dapat menghilangkan garam dan arsen dari air minum hingga 99 persen. Material baru ini dikembangkan besama Central Glass, perusahaan Jepang.

Kran Sensor Hemat Air


Ketika membeli kraqn biasanya model menjadi pilihan utama, supaya mudah disesuaikan dengan produk saniter dan sink di rumah. Seiring perkembangan tren desain dan gaya hidup yang kian praktis, teknologi kran juga berkembang. Kalau semula hanya tersedia kran dengan sistem buka tutup menggunakan tuas atau menekan knop, yang terbaru adalah dengan kran sistem sensor.
Cukup dekatkan tangan di bawah kran, air akan mengucur secara otomatis. Begitu tangan ditarik atau menjauh dari kran, air pun berhenti mengalir. Kran air sistem sensor bekerja dengan sinar infrared yang mendeteksi tangan yang mendekati sekitar kran. Air akan mengucur begita tangan berada dalam jarak 5-12 cm dari lubang krab. Sebuah katup atau turbin diletakkan di bawah kran guna mengontrol kerja sensor. Sensor bekerja dengan tenaga baterai. Kran sensor mampu mengontrik konsunsi air, juga lebih higienis karena tidak banyak tangan yang memegang kran sehingga perpindahan kuman bisa dihindari. Hanya saja bagi kebanyakan rumah tinggal, harga kran sensor masih sangar mahal.

Jumat, 19 Juni 2009

Cat Putih untuk Menghambat Pamanasan Global


Menteri Energi Amerika Serikat Steven Chu pada saat berada di London, mengatakan pemerintah Obama akan mengecat atap dengan warna putih. Warna putih mampu merefleksikan energi. Menurut Chu, dengan mengecat semua jalanan dan atap rumah dengan warna putih, efeknya sebanding dengan megandangkan seluruh mobil di dunia selama 11 tahun. Cara ini merupakan teknologi yang “amat lunak” dan mampu mendinginkan bangunan sehingga mengurangi penggunaan energi dari pendingin udara. Atap dan jalanan warna putih juga merefleksikan sinar matahari dari bumi. Jika dianggap terlalu silau, bisa diganti dengan warna pucat lainnya yang memiliki pendar agak gelap tetapi tetap merefleksikan panas. Chu mengatakan, butuh pemikiran segar untuk mengurangi jumlah gas kaca di atmosfer.

Rabu, 17 Juni 2009

Penghasil Berlian 300 Karat dengan CVD


Seorang peneliti berhasil menemukan teknk baru yang bisa menumbuhkan berlian. Teknik yang disebut chemical vapor deposition (CVD) ini mampu mengubah berlian dari 3 karat menjadi 10 karat. Russel Hamley, dri laboratorium Geophysical Carnagie Institution, mengatakan teknik ini bisa menghasilkan berlian lima kali lebih cepat dibandingkan dengan teknik high-pressure/high-temperature (HPHT) yangbanyak digunakan untuk membuat berlian imitasi. Dalam uji cobanya, Hemley menggunakan berlian 3 karat berukuran 1,5 inci. Berlian ini dibentuk enam persegi. Tiap sisi dipanaskan dengan menggunakan suhu 2.000 C. Pada saat yang sama, berlian dimampatkan dengan tekanan 50 ribu-70 ribu kali tekanan atmosfer (5-7 Gpa) selama 10 menit. Hasilnya, berlian tumbuh 100 mikrometer per jam. Hemley yakin teknik ini bisa membuat berlian ukuran 1 inci dengan kadar 300 karat. Berlian terbesar di dunia saat ini adalah Hope Diamond dengan kadar 45,52 karat yang disimpan di Smithsonian’s National Musem di Natural History, New York.

Selasa, 16 Juni 2009

Mobil Pintar dan Robot Ahli Masak


Perusahaan robot Jepang, ZMP, menciptakan wahana untuk riset dan pengembangan mobil tanpa pengendara. “RoboCar Z” bersekala 1:10 dipemerkan pada Selasa (9 Juni 2009) di Tokyo. Kendaraan mini itu dipenuhi sensor untuk membantu riset mengenai pengembangan teknologi keamanan dan teknologi hemat energi. Robot ini neruoakan alat ajar bagi para ahli mesin. Pihak ZMP akan mulai menjualnya akhir bulan Juni ini dengan harga 1,3 juta yen (sekitar Rp 137 juta) dan 598.000 yen (sekitar Rp107 juta) kalau tanpa eksterior.
Perkembangan robot lainnya yaitu diciptakannya robot tukang masak, “Okonomiyaki Robot”. Robot ahli masak ini dipamerkan International Food Machinery and Technology Exhibiton di Tokyo mulai 9 Juni lalu. Rabot yang dikembangkan Toyo Riki Co – sebuah perusahaan sistem robot terpadu yang berpusat di Osaka – ini mampu melakukan berbagai proses yang diperlukan saat memasak. Misalnya, mengocok bahan-bahan masakan di mangkuk lalu menuangkan ke panci masak yang dipanaskan, menuangkan kue dan menyajikannya di atas piring. Bahkan, robot itu juga bertanya, “Mau saus apa dan tambahan apa?” yang segera dilakukan dengan kedua tangan. Hati-hati, nanti isteri lupa ke dapur nih..

Kamis, 11 Juni 2009

Penerbangan terakhir Concorde


Pesawat jet supersonic melakukan penerbangan komersial terakhirnyapada 24 Oktober 2003. Kecepatan pesawat itu dua kali kecepatan saura. Pesawat Concorde melakukan perjalanan dari Bandara Internasional John F Kennedy di New York menuju Bandara Heathrow di London. Pesawat milik British Airways itu membawa 100 penumpang. Termasuk artis Joan Collins, model Christie Brinkley, dan pasangan Ohio yang dilaporkan membayar US$ 60.000 di e-bay untuk membeli dua buah tiket. Segerombolan besar penonton menyambut keatangan pesawat itu di London. Kedatangan tersebut bersaman dengan dua penerbangan terakhir Concorde dari Edinburgh dan dari Bau of Biscay. Concorde yang merupakan hasil kerjasama pemerintah Inggris dan Perancis memulai pelayanan komersial pada Januari 1976. Teknologi inovatif yang digunakannya membuat pesawat itu mampu menempuh New York menuju London hanya sekitar 3,5 jam. Segera Concorde menjadi simbol kecepatan dan kemewahan. Pada 25 Juli 2000, pesawat Concorde milik Air France mengalami kecelakaan setelah lepas landas dari Paris dan menyebabkan 113 orang tewas. Semua pesawat Concorde dirumahkan selama lebih dari setahun setelah peristiwa itu. Biaya operasional yang mahal dan berkurangnya penjualan tiket setelah kejadian itulah yang membuat Bristish Airways memensiunkan Concorde.

Selasa, 09 Juni 2009

Antena Nokia

Pada awal telepon seluler beredar, bandset yang diperdagangkan masih dilengkapi antena. Tak pernah ada yang memikirkan bahwa antena tipis tersebut sangat mengganggu. Seperti kebanyakan produsen barang-barang teknologi tingi, Nokia pun hanya tertarik dengan teknologi. Tetapi bagi Erkki Kuisma, sungguh mengganggu. Teknisi Nokia itupun segera melakukan penelitian terhadap frekuensi gelombang radio. Seteah berbincang-bincang dengan konsumen, ia sampai pada sebuah gagasan yang dianggap gila : Antena itu disembunyikan di dalam handset. Erkki sampai pada gagasan itu karena sering mendengar keluhan konsumen yang handsetnya rusak karena antenanya patang, melengkung atau terlepas.
Di laboratoriumnya, Erkki segera mencopot antena itu, memotong-motongnya dan menutup lubang handset itu. Ternyata handset bisa berfungsi dengan baik. Kini gagasan itu harus diwujudkan menjadi produk yang dikerjakan oleh divisi produksi dan dibawa ke pasar oleh divisi pemasaran. Tetapi Erkki memperoleh banyak hambatan. Orang-orang produksi dan pemasaran sempat resisten. Mereka khawatir konsumen tak mau membeli handset yang tidak ada antenanya. Tapi setelah gigih berjuang, ide itupun dapat diterima. Debut perdebatan soal antena itu akhirnya diwujudkan lewat Nokia seri 8800. Produk ini ternyata menjadi unggulan Nokia dan memberi keuntungan terbesar dalam sejarah Nokia. Bahkan sepotong antena pun bisa menciptakan perubahan.

Selasa, 26 Mei 2009

Kereta Bertenaga Surya Arizona – “The Solar Bullet”

Proposal kereta bertenaga surya saat ini sedang disusun oleh Magnetic Train Proposed: Detroit To Lansing Michigan. Nampak teknologi yang mahal ini bisa direalisasikan. Caranya dengan memodifikasi kereta yang telah ada menjadi kereta bertenaga surya dan memnggunakan infrastruktur yang telah ada. Tapi bagaimana dengan reaksi public? Sebuah kereta api bertenaga surya nampaknya bukan hal yang mustahil. Karena tidak perlu lagi mengembangkan magnet superkonduktor dan baterai hydrogen yang saat ini telah ada. AzStar Bus menjelaskan konsep desain dari pengembangkan ini dalam topik mereka berjudul : High-speed solar train proposed as Tucson-Phoenix connection. Bahwa ide sistem kereta ini pada tahap awal akan menghubungkan Tucson dan Phonix, Amerika Serikat. Selanjutnya akan dikembangkan jalur lain yang menghubungkan Grand Canyon di utara dengan Nogales di selatan. Untuk fase pertama ini biaya yang diperlukan sebesar US$ 27 billion dan dapat dioperasikan mulai tahun 2018. Pensiunan civil enginer Bill Gaither dan partner bisnisnya Raymond Wright sedang merancang kereta Sollar Bullet LLC di Tucson memiliki kecepatan sampau dengan 220 mph. Kereta ini akan memerlukan tenaga sebesar 110 MWatt yang didapat dari generator panel surya yang berada di atasnya. Tapi kalau dibangun di Alaska bisa tidak ya? Di sana ‘kan mataharinya jarang-jarang kelihatan.

Kamis, 07 Mei 2009

Tinjauan Manajemen Knowledge


1.1 Tinjauan Teoritis Pengetahuan
Knowledge merupakan bagian vital dalam kehidupan sosial manusia modern. Selain itu, dalam sebuah organisasi, peran knowledge yang dimiliki secara keseluruhan dapat meningkatkan daya saing dan efisiensi kerja dari organisasi yang bersangkutan. Dalam era informasi penting untuk disadari bahwa aliran knowledge kedalam dan keluar organisasi berlangsung sangat cepat. Dengan pemanfaatan teknologi informasi dan telekomunikasi, revolusi penyebaran dan pemanfaatan knowledge bukan merupakan hal yang aneh.
Banyak organisasi dewasa ini mengadopsi dan mengimplementasikan knowledge management system sebagai sarana dalam menunjang proses-proses yang terkait dengan pemberdayaan knowledge yang mereka miliki. Namun, untuk mewujudkan budaya berbagi knowledge dalam suatu organisasi bukanlah hal mudah. Selain faktor internal, berupa sifat dasar dari knowledge itu sendiri, hal lain yang biasanya menjadi kendala adalah kesiapan individu-individu dalam organisasi dalam mengadaptasi perubahan menuju kearah learning organization.

1.2 Konversi Knowledge
Manajemen pengetahuan pada dasarnya muncul untuk menjawab pertanyaan bagaimana seharusnya mengelola pengetahuan dan bagaimanan mengelolanya. Kesadaran untuk menerapkan pendekatan manajemen pengetahuan ke dalam strategi bisnis diperlukan karena terbukti perusahaan yang menjadikan sumber daya pengetahuan sebagai asset utamanya senantiasa mampu mendorong perusahaan lebih inovatif yang bermuara kepada kepemilikan data saing perusahaan terhadap para pesaingnya.
Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif, akan dikutip beberapa defines yang berasal dari para ahli.

  • Horwitch dan Armacost (2002) mendefiniskan manajemen pengetahuan sebagai pelaksanaan penciptaan, penangkapan, pentransferan, dan pengaksesan pengetahuan dan informasi yang tapat ketika dibutuhkan untuk membuat keputusan yang lebibaik, bertindak dengan tapat, serta memberikan hasil dalam rangka mendukung strategi bisnis.
  • Davidson dan Voss (2002) mendefinisikan manajemen pengetahuan sebagai sistem yang memungkinkan perusahaan menyerap pengetahuan, pengalaman, dan kreativitas pada stafnya untuk [erbaikan kinerja perusahaan.
  • Knowledge Transfer International (KTI) mendefinisikan manajemen pengetahuan sebagai suatu strategi yangmengubaj asset intelktual organisasi, baik informasi yang sudah terekam maupun bakat dari para anggotanya ke dalam produktivitas yang lebih tinggi, nilai-nilai baru, dan peningkatan daya saing. Menurut definisi ini, manajemen pengetahuan mampu mengajarkan pada organisasi, dari mulai pimpinan sampai kepada karyawan mengenai bagaimana menghasilkan dan mengoptimalkan ketrampilan sebagai entitas kolektif.
  • The American Productivity and Quality Centre mendefinisikan manajemen pengetahuan sebagai strategi dan proses pengindentifikasian, menangkap, dan mengungkit pengetahuan untuk daya saing.


Berbagai definisi yang dikemukakan oleh paraahli tersebut terlihat memiliki sudut pandang yang berbeda-beda. Oleh karena itu, Tannenbaum (1998) menawarkan definis berikut ini yang dapat dijadikan sebagai suatu konsensus sehingga didapatkan pemahaman yang lebih komprehensif terhadap definsi manajemen pengetahuan.

  1. Manejemen pengetahuan mencakup pengumpulan, penyusunan, penyimpanan, dan pengaksesan informasi untuk membangun pengetahuan, pemanfaatan dengan tepat teknologi informasi seperti computer yang dapat mendukung manajemen pengetahuan, namun teknologi informasi tersebut bukanlah manajemen pengetahuan.
  2. Manajemen pengetahuan mencakup berbagi pengetahuan (sharing knowledge). Tanpa berbagi pengetahuan akan gagal. Kultur perusahaan, dinamika dan praktik (seperti penggajian) dapat mempengaruhi pengetahuan. Kultur dan aspek social dari manajemen pengetahuan merupakan tantangan yang signifikan.
  3. Manajemen pengetahuan terkait dengan pengetahuan prang. Pada suatu saat, organisasi membutuhkan orang-orang yang kompeten untuk memahami dan memanfaatkan informasi dengan efektif. Organisasi terkait dengan individu untuk melakukan inovasi dan memberi petunjuk kepada organisasi. Organsiasi juga terkait dengan persoalan keahlianyang menyediakan input untuk menerapkan manajemen pengetahuan. Oleh karena itu, organisasi mesti mempertimbangkan bagaimana menarik, mengembangkan, dan mempertahankan anggita sebagai bagian dari domain manajemen pengetahuan.
  4. Manajemen pengetahuan terkait dengan peningkatan efektivitas organisasi. Berkonsentarsi dengan manajemen pengetahuan karena dipercaya bahwa manajemen pengetahuan dapat memberikan konstribusi kepada vitalitas dan kesuksesan perusahaan. Upaya untuk mengukur modal intelektual dan untuk menilai efektivitas manajemen pengetahuan harus dapat membantu memahami secara luas pengelolaan pengetahuan yang telah dilakukan.

Polanyi seorang ahli kimia merupakan orang pertama yang memperkenalkanbahwa knowledge terdiri dari dua jenis yaitu tacit knowledge dan explicit knowledge. Tacit knowledge merupakan knowledge yang diam di dalam benak manusia dalam bentuk intuisi, judgement, skill, values, dan belief yang sangat sulit diformalisasikan dan dibagikan kepada orang lain. Sedangkan explicit knowledge adalah knowledge yang dapat atau sudah terkondifikasi dalam bentuk dokumen atau bentuk berwujud lainnya sehingga dapat dengan mudah ditransfer dan didistribusikan dengan menggunakan berbagai media. Explicit knowledge dapat berupa formula, kaset/ cd video dan audio, spesifikasi produk atau manual.
Kedua jenis knowledge tersebut, oleh Nonaka dan Takeuchi dapat dikonversi melalui empat jenis konversi, yaitu : Sosialisasi, Eksternalisasi, Kombinasi dan Internalisasi. Keempat jenis konversi ini disebut SECI Process (S: Socialization, E: Externalization, C: Combination, dan I: Internalization).