Jumat, 07 Agustus 2009
Ratu Kecantikan Arab Saudi
Ratu dari Bihar
Rabu, 22 Juli 2009
Menginginkan Michael Jackson

Selasa, 21 Juli 2009
Sati
Senin, 22 Juni 2009
Agama Sunda Wiwitan
Dalam pandangan Agama Sunda Wiwitan, masyarakat harus kembali kepada agama mereka sendiri yang hanya dapat dilakukan dengan menemukannya pada kebudayaan yang mereka miliki secara hakiki, seperti kebudayaan Sunda dan kebudayaan Jawa. Hanya dengan mempelajari agama asli yang mereka miliki itulah masyarakat akan hidup dalam keharmonisan dan kedamaian.
Dengan dasar pemikiran semacam inilah, kelompok ini dianggap memiliki tedensi anti-Islam. Tidak heran pada masa pendudukan Jepang kelompok ini dilarang karena politik keberpihakan Jepang kepada Islam yang begitu kental. Pelarangan resmi oleh Pemerintah Indonesia juga muncul pada 1964. Baru setelah reformasi 1998 Sunda Wiwitan kembali memunculakn geliatnya, terutama dengan kedatangan Gus Dur pada acara Seren Taun. Ajaran Sunda Wiwitan tercermin dari tiga doktrin utamanya : Ngaji Badan, Iman Kana Tanah dan Ngiblating Ratu Raja. Kelompok ini memiliki tempat ibadah tersendiri yang dikenal dengan Paseban. Mereka juga tidak melaksanakan seremoni, sebagaimana diajarkan oleh agama konvesional yang dianggap resmi, mereka menolak status muslim yang disandang pengikutnya.
Walaupun mengalami pelarangan yang cukup lama, tampaknya pemeluk Sunda Wiwitan bisa memelihara dan melestarikan ajaran dan praktik kepercayaan mereka. Seiring dengan proses reformasi yang menuntut dihargainya berbagai kebebasan keyakinan, otonomi, dan lokalitas, SundaWiwitan juga menunjukkan gejala revitalisasi. Dalam konteks ini, Dewi Kanti (putri dari Pengeran Djatikusuma) menuntut diakuinya sunda Wiwitan sebagai agama. Menurut Dewi, Sunda Wiwitan adalah agama Pribumi. Apabila Konghucu bisa diakui sebagai agama, mengapa Sunda Wiwitan tidak bisa dianggap sebagai agama? Karena itu, bagi pengikut Sunda Wiwitan pengakuan dan perlindungan hak-hak sipil mereka merupakan keharusan. Layanan atas hak-hak sipil seperti pencantuman Sunda Wiwitan sebagai identitas agama, diakuinya status pernikahan pemeluk Sunda Wiwitan, dan pendidikan tentang ajaran Sunda Wiwitan di sekolah, ini tampaknya banyak disuarakan oleh kelompok ini.
Selasa, 16 Juni 2009
Cheongsam
Cheongsam atau dikenal dengan Qi-pao atau Shanghai Dress adalah gaun khas Cina, yang melekat pas di tubuh sehingga menonjolkan keindahan lekuk tubuh wanita yang menggenakannya dengan sempurna. Beberapa ciri khasnya adalah kerah yang tegak dan belahan samping yang tinggi. Cheongsam adalah simbol kebangkitan wanita modern Cina. Cheongsam pertama kali dipakai pada tahun 1921 oleh para wanita Shanghai. Kebanyakan pemakainya adalah guru dan pelajar, yang merupakan sedikit dari wanita Cina yang mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Cheongsam pada masa itu merupakan busana yang nyaman, praktis, dan juga ekonomis, sebagai hasil modifikasi dari busana awal mereka yang berupa jubah lebar dan longgar namun berlapis-lapis. Pengaruh cheongsam terhadap dunia fashion internasional sangat terasa di pusa-pusat mode dunia, seperti Paris, London, Roma, dan New York, di mana para fashion designer berlomba-lomba untuk meluncurkan berbagai koleksi rancangan yang mengambil inspirasi dari cheongsam. Dipicu oleh proses kembalinya Hongkong ke Cina, maka cheongsam mendapatkan perhatian lebih dari para desaigner Eropa. Hasilnya, Prada, high end lebel untuk fashion yang cukup berpengaruh meluncurkan Cheongsam Inspired Colection pada musim semi 1997. Hal itu diikuti oleh Dries van Noten, Christian Lacroix, Karl Lagerfeld, Jean Paul Gaultier, dan John Galliano. Keraton Surakarta
Bangunan ini berumur lebih dari 2,5 abad. Mulai ditempati sejal 17 Februari 1945 oleh Susuhan Paku Buwobo II dan keluarganya. Mereka terpaksa pindah karena keraton di Kartosuro yang berjarak 10 kilometer sebelah barat Solo telah porak poranda oleh pemberontak Tionghoa.Pada masa itu pilihan jatuh pada tanah yang luas yang dekat sekali dengan aliran Bengawan Solo. Sungai terpanjang di Jawa itu juga menawarkan sederet keuntungan. Salah satunya mendekatkan hubungan dengan pesisir utama Jawa Timur, misalnya Gresik dan Tuban. Dan belajar dari Kartosuro, di tempat ini Susuhan Paku Buwono berusaha membangun keraton yang bisa menangkal serangan model apapun. Itulah mengapa alun-alun pun dipakai untuk membentengi diri. Lapangan luas tersebut sengaja diletakkan sebagai medan perang sebelum para pengganggu mencapai keraton.
Keraton Surakarta mengandung nilai spritual yang dijunjung tinggi oleh kepercayaan Jawa kuno. Ada 7 tangga, 7 gapura, dan 7 lokasi bujur sangkar yang sesuai dengan rancang bangun Candi Borobudur.
Pada 1755 Perjanjian Giyanti dimateraikan. Isinya antara lain membagi Kerajaan Mataram jadi dua. Yakni, Kesunanan Surakarta dengan rajanya Paku Buwono II dan Kesultanan Yogyakarta dengan rajanya Hamengku Buwono I.
Si Gale Gale

Seandainya Anda sempat berkunjung ke Pulau Samosir di Danau Toba, Sumatera Utara, tentu pernah melihat boneka kayu yang menjadi ciri khas pulau tersebut. Namanya Si Gale Gale, boneka yang dibuat sedemikian rupa sehingga bisa digerakkan dari belakang. Ada tali yang menghubungkan bagian kepada dan lengannya sehingga Si Gale Gale bisa bergerak robotik. Pemain Si Gale Gale sering kali menggerakkan tubuh boneka agar turut menari atau menortor selama ritual penguburan.
Kabarnya Si Gale Gale sudah dikenal sejak 400 tahun lalu. Zaman dahulu seorang kepala kampung di Samosir, Rahayat Raya, kehilangan anak laki-laki satu-satunya. Duka Rahayat tak kunjung habis sebab ia bangga dan berharap sang putra bisa menggantikan posisinya kelak. Untuk menghibur diri ia membuat boneka sang anak. Seluruh ahli ukir negeri dikerahkan. Agar mirip, boneka tersebut dibuat dapat digerakkan. Patung itu memiliki roman muka yang menarik, alis mata dibuat dari tanduk kerbau dengan daun telinga diperindah ornamen berbahan kuningan atau dikenal dengan nama sitepal.
Kamis, 11 Juni 2009
Tari Tortor
Dahulu tarian Tortor merupakan tarian kesurupan dengan diiringi gondang, musik yang dianggap sumber kekuatan adikodrati yang memungkinkan alam suci menembus upacara masa kini. Roh-roh dipanggil masuk ke patung batu yang merupakan simbol leluhur masyarakat Batak di Sumatera Utara, lalu patung tersebut bergerak kaku seperti menari. Di dalam tradisi, Tortor cukup beragam. Sebut saja Tortor Pangurason yaitu tari pembersihan yang biasa dipertunjukkan saat berlangsungnya pesta besar. Tujuannya sekadar membersihkan tempat dan lokasi yang akan dipakai agar jauh dari petaka. Ada juga Tortor Sipitu Cawan atau Tarian Tujuh Cawan. Biasa digelar saat mengukuhkan raja. Menurut cerita, tarian ini berasal dari kisah tujuh putri kahyangan yang datang mandi di telaga puncak Gunung Pusuk Buhit dan datang bersama pisau tujuh sarung. Selanjutnya, Tortor Tunggal Panalian yang dipadukan dengan kemunculan tongkat tunggal panaluan. Tongkat tersebut masih dianggap sakral sebab dipercaya memiliki kesaktian setara Debata Natolu, yakni gabungan banua atas, banua tengah, dan banua bawah. Tortor ini sudah menjadi budaya ritual yang digelar apabila suatu desa dilanda musibah. Dengan tongkat panaluan para dukun menari untuk memohon petunjuk bagaimana mengatasi masalah tersebut. Lain halnya Tortor yang ditarikan pada perayaan Horja. Tortor semacam ini diadakan tanda kepada umum tentang pertukaran hadiah antarkeluarga.Senin, 08 Juni 2009
Tapa Brata Panembahan Senopati

Tapa brata adalah lelaku yan sudah terfokus pada ‘sangkan-paraning dumadi’ (manungaling kawula Gusti), sehingga hati sanubarinya menjadi bersih. Tapa brata dalam kalangan masyarakat Jawa, dianggap sebagai bentuk ‘panembah’ atau dalam rangka mendekatkan diri kepada Gusti Kang Akarya Jagat (Allah). Terlebih lagi dalam lelaku tapa brata tersebut, telah ada tauladan yang baik, seperti tapa brata-nya Kanjeng Panembahan Senapati di Mataram. Sri Mangkunegara IV menuturkan : “Nuladha laku utama; tumpraping wong tanah Jawi, wong agung ing Ngeksi ganda, Penembahan Senapati, kadapi amarsudi, sudaning hawa lan nafsu, pinesu tapa barata tenapi ing siyang ratri, amamangun karyenak tuasung sesama.”
Artinya : “Tirulah tindak utama, bagi mereka yang di Tanah Jawa (masyarakat Jawa), orang agung di Mataram, sangat serius dalam berusaha atau belajar, mengurangi hardaning hawa nafsu, dengan menjalankan tapa brata, baik pada siang hari maupun malam hari, selalu berbuat baik dengan membuat senag sesama manusia”.
Tapa barat yang dilakukan Kanjeng Panembahan Senapati di Mataram tersebut, nampaknya sangat sempurna. Terlihat dengan adanya dua akses sekaligus. Pertama, akses yang bersifat ke dalam diri, yakni dimaksudkan untuk menundukkan hardaning hawa nafsu sebagai pembersihan angan-angan kotor di dalam diri. Kedua, akses bersifat ke luar, yakni bersikap positif dengan ditunjukkan karyenak tyse sesama (membuat senang kepada sesama manusia). Sebagaimana tapa brata yang dilakukan Kanjeng Panembahan Senapati di mataram, termasuk di dalamnya cegah dhahar lan gulin (mengurangi makan dan tidur) secara rutin siang dan malam, dikenal pula bentuk tapa brata yang bermacam-macam :
- Tapa Ngalong, yakni tapa brata dengan menggantung terbalik seperti kalong (kelelawar), kedia kaki diikat pada dahan pohon.
- Tapa Ngluwat, yakni tapa brata (bersemedi) di samping makam seseorang dalam jangka waktu tertentu.
- Tapa mBisu, yakni menahan diri dari berbicara atau berkata-kata.
- Tapa Bolot, yakni tidak mandi dan tidak membersihkan diri dalam jangka waktu tertentu.
- Tapa Ngidang, yakni menjauhi dunia keramaian dengan tinggal di dalam hutan seraya makan apa adanya sebagaimana rusa (kidang).
- Tapa Ngrambang, yakni menyendiri di dalam hutan dan hanya makan tumbuh-tumbuhan.
- Tapa Kungkum (Tapa Ngambang), yakni berendam (kungkum) atau ngmbang di dalam sungai dalam waktu tertentu.
Semua itu menunjukkan adanya bentuk tirakat (lara-lapa). Dalam pewayangan (pendhalangan) pun disebutkan, misalnya tapa ngalong dan tapa ngidang yang dilakukan oleh Subali-Sugriwa atas perintah ayahanda Reso Gotama. Sedangkan Anjani (saudara Subali-Sugriwa) saat itu menjalani tapa wuda (dengan telanjang bulat) di dekat danau.
