Kamis, 07 Mei 2009

Sakit Punggung Bawah atau Low Back Pain

Hal ini baru saja saya alami. Kira-kira sekitar satu bulan yang lalu. Waktu itu hari Sabtu pagi saya mengendarai sepeda motor keliling kompleks perumahan sekalian isi bensin. Dalam perjalanan pulang tiba-tiba punggung bagian bawah mulai dari pinggang sampai setengah badan terasa sakit sekali. Badan tiba-tiba tidak bisa bungkuk. Untung saja sudah dekat rumah. Kalau masih jauh mungkin saya bisa pingsan di tengah jalan. Sakitnya luar biasa. Sampai di rumah, saya harus berjalan merangkak dari pintu masuk sampai ke ruang tamu. Saya tidak sanggup untuk duduk apalagi berdiri. Saya hanya bisa pasrah terlentang di lantai rumah. Untuk bergerak rasanya sakit seluruh badan. Dari pagi sampai sore saya tidak bisa ke mana-mana, tidur-tiduran saja di lantai rumah.
Untung sore hari saya diurut isteri (itu enaknya punya isteri), agak baikan sehingga saya bisa berjalan ke toilet. Namun sakitnya tidak hilang.
Keesokan harinya saya tidak masuk kantor dan diurut oleh tukang urut yang biasa menangani low back pain, walau ada sebagian masyarakat menyebutnya sebagai otot ketarik atau syaraf kejepit. Asli, saya diinjak-inajak, diduduki, ditarik kedua kaki dan tangan. Rasanya seluruh persedian saya mengeluarkan bunyi. Setelah diurut rasanya agak baikan meski kalau duduk terlalu lama kemudian berdiri, sakitnya masih terasa. Tiga hari kemudian saya diberi beliau ramuan untuk penyembuhan. Ramuan ini harus diminum sehari dua kali. Terdiri dari : akar alang-alang (satu ikat, banyak dijual di pasar swalayan), gula merah ukuran kecil (1/2 lingkaran), serbuk kayu manis (satu sendok makan). Semua bahan-bahan ini digodok/rebus sampai airnya tinggal setengah. Lalu disaring. Diminum dengan ditambah 3 sendok makan madu setiap kali minum.
Kalau yang suka jamu sih rasanya lumayan. Kalau yang tidak suka jamu seperti saya, rasanya agak-agak aneh. Tapi yang penting badan sehat. Semoga bermanfaat.

Rabu, 06 Mei 2009

Bercerai Pada Saat Menikah
Menikah semestinya menjadi suatu awal kebahagian namun yang terjadi justru sebaliknya. Sepasang pengantin bercerai justru pada saat berlangsungnya pesta pernikahan mereka. Menurut berita yang dilansir koran harian Okaz terbitan Arab Saudi dan dikutip ulang Antara, setelah beberapa tahun berpacaran dan menunggu bersanding dengan istri tercinta, seorang pemuda Arab Saudi di Jeddah justru menceraikan istrinya saat pesta pernikahan. Kejadiannya tiga hari lalu, saat pengantin pria yang bernama Aaris (bukan nama sesungguhnya) tanpa ragu-ragu menceraikan pengantin wanita, Aarus (bukan nama sesungguhnya) di hadapan para tamu. Tentu saja para tamu terheran-heran.Penyebabnya bukan karena tidak cinta pada istrinya, tetapi karena ayah sang istri mempermalukan menantunya di depan umum. Sang mertua yang tidak sabar ini bersikeras meminta sejumlah uang yang tergolong besar kepada menantunya sebagai syarat dapat memboyong putrinya. Karena emosi yang sudah tidak bisa dikendalikan, pengantin pria langsung menceraikan pengantin wanita itu di hadapan para tamu. Pesta bahagia yang diharapkan terwujud berganti dengan kesedihan. Gagal deh malam pertama kite.... begitu mungkin gumam calon eh... pengantin yang bercerai ini.

Menikah dengan Mayat


Bila di Cina ada laki-laki yang dipaksa dinikahkan dengan mayat tunangannya yang sudah meninggal 6 hari yang lalu sehingga tubuhnya harus ditopang dengan kayu. Lain hanya yang terjadi di Ahmedabad, sebuah kota yang terletak di sebelah barat India.

Malang benar nasib Tulsi Devipujak. Baru saja bertunangan, gadis berusia 22 tahun tersebut justru ditinggal mati oleh kekasihnya yang tewas kecemplung di sumur. Namun, tragedi tersebut tidak menyurutkan cinta Tulsi kepada kekasihnya. Maka dia langsung menikahi kekasihnya yang sudah menjadi mayat sebelum akhirnya dikremasi. “Selama beberapa menit perempuan tersebut berpakaian layaknya pengantin dan kini menjadi janda,” kata KM Kapadia, seorang polisi di Kota Anand, negara bagian Gujarat, India. Seusai tata cara agama Hindu, sebelum dikremasi jenazah pria tersebut didudukkan di atas tungku api dan menjalani prosesi pernikahan. “Perempuan tersebut menolak menyerahkan jenazah kekasihnya untuk dikremasi sebelum mereka dipersatukan dalam ikatan pernikahan,” kata Kapadia. Pernikahan tersebut berlangsung dalam suasana haru dan menurut tata cara Hindu, Tulsi diberi hadiah oleh orang tuanya berupa pakaian dan perabotan rumah tangga. (Sumber : Reuters).
Masalah dalam Perubahan Budaya Organisasi
Tidak semua orang akan menyambut perubahan dengan gembira. Para karyawan mungkin, bahkan bisa dipastikan, akan terbelah, setidak-tidak menjadi dua kelompok besar, yaitu kelompok yang setuju terhadap perubahan dan kelompok yang menentang atau resisten. Masalah yang paling sering dan menonjol dalam pengimplementasi teknologi adalah “penolakan atas perubahan itu sendiri”. Istilah yang sangat populer dalam manajemen adalah resistensi perubahan (resistance to change). Penolakan atas perubahan tidak selalu negatif karena justru karena adanya penolakan tersebut maka perubahan tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Seperti dikatakan Jane Flagello (Azizy, 2007), “Change is growth. Change is opportunity. Change increases potential.”

Penolakan atas perubahan tidak selalu muncul dipermukaan dalam bentuk yang standar. Penolakan bisa jelas kelihatan (eksplisit) dan segera, misalnya mengajukan protes, mengancam mogok, demonstrasi, dan sejenisnya; atau bisa juga tersirat (implisit), dan lambat laun, misalnya loyalitas pada organisasi berkurang, motivasi kerja menurun, kesalahan kerja meningkat, tingkat absensi meningkat, dan lain sebagainya.

Stephen P Robbins (dalam Winarndi, 2006).menyatakan bahwa semakin banyak organisasi dewasa ini menghadapi lingkungan dinamik dan banyak mengelami perubahan, serta menyebabkan timbulnya keharusan untuk berubah (Winardi, 2006). Sumber penyebab timbulnya perubahan terdapat pada karakteristik dasar manusia.. Karena persoalan kepribadian, persepsi, dan kebutuhan, maka individu punya potensi sebagai sumber penolakan atas perubahan. Ada beberapa penyebab penolakan ini :


1. Kebiasaan.
Kebiasaan merupakan pola tingkah laku yang kita tampilkan secara berulang-ulang sepanjang hidup kita. Kita lakukan itu, karena kita merasa nyaman, menyenangkan. Jika perubahan berpengaruh besar terhadap pola kehidupan tadi maka muncul mekanisme diri, yaitu penolakan.
2. Rasa aman
Jika kondisi sekarang sudah memberikan rasa aman, dan kita memiliki kebutuhan akan rasa aman relatif tinggi, maka potensi menolak perubahan pun besar. Mengubah cara kerja padat karya ke padat modal memunculkan rasa tidak aman bagi para pegawai. Ketakutan bahwa mereka akan kehilangan pekerjaan karena tergantikan oleh teknologi (Indrajit, 2005).
3. Faktor ekonomi
Faktor lain sebagai sumber penolakan atas perubahan adalah soal menurun-nya pendapatan. Kesadaran bahwa dengan adanya teknologi maka mereka akan kehilangan pendapatan tidak resmi yang kerap diperoleh sehari-hari (Indarjit, 2005). An internal boundary, mungkin istilah yang sesuai untuk hal ini dimana secara internal perubahan itu tidak direspon secara positif oleh para pegawai karena takut kehilangan “rente” yang selama ini mereka nikmati (Indiahono, 2006).
4. Takut akan sesuatu yang tidak diketahui
Sebagian besar perubahan tidak mudah diprediksi hasilnya. Oleh karena itu muncul ketidak pastian dan keragu-raguan. Kalau kondisi sekarang sudah pasti dan kondisi nanti setelah perubahan belum pasti, maka orang akan cenderung memilih kondisi sekarang dan menolak perubahan.
5. Persepsi
Persepsi cara pandang individu terhadap dunia sekitarnya. Cara pandang ini mempengaruhi sikap.

Selasa, 05 Mei 2009

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI UNGGULAN DUNIA PERBANKAN DI PT. BANK MANDIRI

I. Pendahuluan
Tujuan pengembangan teknlogi informasi (TI) di PT. Bank Mandiri adalah agar setiap nasabah mendapat kemudahan dalam bertransaksi, baik di wilayah Indonesia maupun di luar negeri. Menerjemahkan harapan nasabah tersebut, PT. Bank Mandiri membutuhkan sistem yang online, real time dan fleksibel, Karena itulah, Bank Mandiri kemudian mengembangkan Domestic and International Payment System (DIPS).
Keistimewaan sistem pembayaran berbasis TI itu, dinilai memberikan pengaris signifikabn terhadap proses bisnis bank yang memiliki asset totel Rp. 255,28 triliun ini. Bank Mandiri melakukan perubahaan terhadap sistem bisnisnya. Kadang-kadang perusahaan menerapkan TI tanpa mengubah proses bisnisnya, sehingga penerapan TI tersebut tidak efisien. Dalam hal ini Bank Mandiri melakukan perubahaan dalam proses bisnisnya sehingga bisa lebih efisien.
DIPS digunakan untuk mendukung proses transaksi domestik dan pembayaran internasional Bank Mandiri yang dikelola secara terpusat, baik transaksi outgoing maupun incoming dengan konsep straight through processing (STP) dan sameday service. Dengan begitu, diharapkan terjadi proses bisnis yang ringkas, seketika, dan online, serta sesuai dengan standar pembayaran internasional.
Tujuan dan target dari implementasi sistem ini adalah untuk memberikan pelayanan yang sama untuk semua produk dari seluruh channel guna memenuhi kebutuhan nasabah. Sebelum implementasi sistem tersebut, pihak Bank Mandiri melakukan benchmarking ke sejumlah bank internasional yang mempunyai reputasi di bidang internasional yang mempunyai reputasi di bidang sistem pembayaran. Anatara lain ke Bank of New York, Citibank, American Express Bank, dan Deutsche Bank. Tim TI Bank Mandiri juga mempelajari sistem pembayaran domestic di Union Bank of California dan OCBC Bank. Untuk melakukan hal itu, Bank Mandiri membentuk tiga tim, lalu membuat request for proposal. Tim yang ada digabungkan untuk menyamakan persepsi. Dari situ terbentuklah usulan untuk membuat satu sistem pembayaran yang mempunyai konsep straight through processing.
Dengan konsep straight through processing, maka semua transaksi baik untuk wilayah domestik maupun internasional, bisa diselesaikan cukup di front office saja. Dengan begitu, tidak ada lagi pemrosesan di back office atau processing centre lainnya. Mekanismenya, untuk transaksi outgoing, ketika keputusan transaksi diterima, maka seleuruh perintahan pendebitan atau pengkreditan (termasuk transmisi data atau perintah kepada bank di dalam dan di luar negeri) sudah otomatis. Begitu pula sistem akunting dan sistem pelaporan lainnya sudah termasuk dalam pemrosesan. Hal seperti itu terjadi pula pada transaksi incoming. Kerika penerima kiriman uang melalui aplikasi SWIFT ataupun Real Time Gross Setllement (RTGS), maka secara otomatis aklan langsung mengkrditkan ke rekening bank naabah, Jadi, tidak ada lagi orang yang memproses dan mengerjakannya sebab semuanya sudah by system. Pada saat transaksi dieksekusi di setiap terminal, pada saat itu pula seluruh transaksi diselesaikan oleh sistem secara otomatis ke tempat tujuan.
Proses implementasi sistem ini memakan waktu selama 18 bulan, hingga bisa go live dan siap digunakan pada Agustus 2003. Untuk pengembangannya, pihak Bank MAndiri melibatkan beberapa vendor dan konsultan. Antara lain, PR Silverlake Infotama, PT Praweda Ciptakarsa Informatika, PT Murni Solusindo Nusantara, dan Decillion Solution Pte, Ltd. Proyek ini memenag tidak main-main karena didukung oleh 310 staf TI. Tak hanya itu, investasi yang dibenakmkanpun relative besar, yakni mencapai 2,4 juta. Ronciannya untuk belanja software (Windows 2000 dan O/S 400) US$ 1,24 juta; hardware (IBM AS/400 dan HP Blade Server) US$ 76 ribu; dan biaya jasa konsultan US$ 1,1 juta. Lamanya proses implementasi disebabkan tidak bisa dilakukan secara sekaligus. Bank MAndiri memiliki hamper 1.000 cabang sehingga implementasi mesti bertahap.
DIPS mencakup berbagi kegiatan dan sistem transaksi, yakni : BI_RTGS, clearing (BI-SKN), telegraphic transfer (SWIFT), cash letter, bank draft, collection, Western Union Money Transfer, Domestic Foreign Currency Settlement, dan mass transaction. Pendekatan yang diambil oleh Bank Mandiri sangta bagus. Sebab Dari awal mereka sudah melihat bahwa mulainya dari integrasi sehingga mereka memilih arsitektur yang sama, yakn sebuah sistem terpadu untuk semua sistem yang Bank Mandiri kembangkan. Sehingga setelah mendefinisikan arsiterkturnya, Bank Mandiri baru mulai menerapkan aplikasi-aplikasi. Sehingga begitu dibuat, meski pembuatannya agak lama, menjadi bagian yang intergral dalam keseluruhan sistem sehingga bisa memberikan layanan yang konsisten ke semua channel yang dimiliki.
Sebenarnya DIPS ini tercakup dalam proyek kolosal Bank Mandiri, yakni enterprose Mandiri Advanced System (eMAS). Program eMAS ini terdiri dari empat inisiatif utama.
Memperkaya dan memperbarui delivery channel (dalam wujud SMS, internet banking dan call centre).
Membangun core banking system baru yang terintegrasi (mencakup model CIF, deposit, loan, branch delivery, remittance, GL, kartu kredit, trade finance, dan treasury).
Membangun sistem informasi manajemen yang didukung teknologi data warehouse terkini (BI, reporting, MIS dan PMS).
Memperkuat dan memperbaharui sistem infrastruktur yang tangguh dan terpercaya (reliable), termasuk dari sisi jaringan (network).

Diantara proyek eMAS itu, pada tahun 2004 Bank Mandiri menjalankan proyek implementasi Disaster Recovery Centre (DRC) berbasis teknologi mirroring untuk mereplikasi data dengan memanfaatkan intelligent networking berbasis protocol internet (IP-based). Hasilnya terwujudlah jaringan komunikasi yang efektif dan efisien untuk mendukung operasional cabang-cabang, temasuk jaringan ATM, electronic banking, call centre, centralized back office, dan sebagainya.
Langkah penting lainnya, Bank Mandiri juga menerapkan berbagai sistem lain, seperti implementasi ERP (termasuk e-procurement dan automated budget monitoring), Human Capitak Management System, Loan Origination System, pemanfaatan platform.Net dan mencoba mengimplementasikan konsep Service Oriented Architecture. Intinya, pemanfaatan TI di Bank Mandiri telah mencakup seluruh kegiatan operasional perbankan.
Implementasi program eMAS ini telah berhasil membangun pondasi yang kokoh bagi aplikasi, informasi dan infrastruktur Bank Mandiri. Proyek eMAS scara strategis dinilai mampu menunjang kebutuhan bisnis saat ini dan masa depan, dalam hal pengembangan produk dan layanan baru, ekspandi jaringan, penambahan fitur, serta kebutuhan merger dan akuisisi. eMAs memang kolosal, sebab dana yang dihabiskan sekitar US$ 170 juta.
Dampaknya, berkat implementasi sistem-sistem tersebut, Bank Mandiri berhasil menekan cost of fund dengan memperbaiki funding mix melalui penurunan jumlah dana simpanan berbiaya tinggi (deposito berjangka) ke dana simpanan berbiaya rendah (tabungan dan giro). Rasio dana simpanan berbiaya rendah saat ini mencapai 54,2% dari total jumlah dana pihak ketiga. Selain itu, Bank Mandiri mampu mengurangi servicing cost dengan membangkitkan minat bertransaksi nasabah melalui pengunaan kanal berbiaya rendah seperti ATM, phone banking dan internet banking. Peningkatan jumlah transaksi di cabang dan electronic delivery channel terus meningkat sampai 72% dari seluruh jumlah transaksi. Saat ini volume transaksi yang dilaksanakan pada electronic channel mencapai dua kali lebih banyak dari transaksi konvensional di cabang. Bank Mandiri berhasil mengurangi komposisi pinjaman pada segmen korporat ke segmen individual, komersil, serta usaha mikro dan kecil. Hal ini seiring meningkatnya jumlah total pinjaman yang disalurkan, dengan LDR 57,6%.
Hingga Desember 2006, total transaksi keuangan yang diproses mencapai 43 juta transaksi, atau meningkat 34% dari 32 juta transaksi pada periode yang sama pada tahun sebelumnya. Aspek lainnya, sistem keetrsediaan TI Bank Mandiri mencapai rata-rata 99%, artinya nasabah dapat melakukan hampir setiap saat tanpa merasakan gangguan. Sehingga Bank Mandiri bisa mengatur secara optimal asset dan liabilitas, bisa mengendalikan profitabilitasnya secara maksimal. Karena dengan sistem sentralisasi seluruh informasi yang akan digunakan untuk pengambilan keputusan bisa segera diketahui.

Aspek inovatif yang menjadi perhatian
a. membangun Integrated Core Banking System
b. Human Resources Management System
c. E-Procurement System.

Isyu spesifik pada pengembangan IT di PT. Bank Mandiri :
1. Pelayanan yang lebih baik
2. Peningkatan kualitas SDM terutama di bidang IT.
3. Kompetensi IT dalam pelayanan perbankan.
4. Sentaralisasi pengawasan keuangan.
5. Manajemen Keputusan yang lebih cepat.


II. DESKRIPSI KASUS
Isyu-Isyu yang melatarbelakangi inovasi :
Dilihat dari sejarahnya, konsep e-government berkembang karena adanya 3 (tiga) pemicu (drivers) utama, yaitu:
1. Era globalisasi yang datang lebih cepat dari yang diperkirakan telah membuat isu-isu semacam demokratisasi, hak asasi manusia, hukum, transparansi, korupsi, civil society, good corporate governance, perdagangan bebas, pasar terbuka, dan lain sebagainya menjadi hal-hal utama yang harus diperhatikan oleh setiap bangsa jika yang bersangkutan tidak ingin diasingkan dari pergaulan dunia.
2. Kemajuan teknologi informasi (komputer dan telekomunikasi) terjadi sedemikian pesatnya sehingga data, informasi, dan pengetahuan dapat diciptakan dengan teramat sangat cepat dan dapat segera disebarkan ke seluruh lapisan masyarakat di berbagai belahan di dunia dalam hitungan detik. Hal ini berarti bahwa setiap individu di berbagai negara di dunia dapat saling berkomunikasi secara langsung kepada siapapun yang dikehendaki tanpa dibutuhkan perantara (mediasi) apapun.
3. Meningkatnya kualitas kehidupan masyarakat di dunia tidak terlepas dari semakin membaiknya kinerja industri swasta dalam melakukan kegiatan ekonominya. Keintiman antara masyarakat (sebagai pelanggan) dengan pelaku ekonomi (pedagang, investor, perusahaan, dan-lain-lain) telah membuat terbentuknya sebuah standard pelayanan yang semakin membaik dari waktu ke waktu. Percepatan peningkatan kinerja di sektor swasta ini tidak diikuti dengan percepatan yang sama di sektor publik, sehingga masyarakat dapat melihat adanya kepincangan dalam standard kualitas pemberian pelayanan.

Aktor-aktor yang terlibat dalam proses inovasi
1. Bank Mandiri
Tokoh kunci : Sasmita (Direktur Teknologi & Operasional), Suresh Gumalamm (IT Head)
2. Konsultan dan Vendor
- Silverlake Infotama
- Praweda Ciptakarsa Informatika
- Murni Solusindo Nusantara
- Decillion Solution

Relevansi isyu-isyu tersebut bagi kepentingan aktor-aktor.
Disamping sebagai regulator, Pemerintah juga memiliki fungsi administratif dan tehnis untuk memberikan pelayanan atas kebutuhan masyarakat. Berbagai fungsi pelayanan umum kepada masyarakat ini diemban oleh banyak Departemen dan secara fungsional didistribusikan atau diserahkan kewenangannya kepada Pemerintah Daerah, baik Pemerintah Propinsi maupun Pemerintah Kabupaten. Untuk memudahkan pekerjaan kompleks-nya itulah Pemerintah memanfaatkan Teknologi Informasi di lingkungan kerjanya dan terselenggaralah e-government.
Secara makro e-government berkeinginan mewujudkan good governance, yaitu e-government yang menjamin Sistim Layanan Publik dan menciptakan Sistim Pemerintahan yang demokratis, transparan, bersih, adil, akuntabel, bertanggungjawab, responsif, efektif dan efisien. Idealisme ini mencakup dua sisi kepentingan, yaitu Pemerintah dan Masyarakat. Masing-masing pihak memiliki kepentingan yang tidak selalu sama namun dapat berjalan bersama. Pada sisi Pemerintah sendiri terdapat dua sisi pelayanan, yaitu pelayanan internal dan pelayanan eksternal.
Dari sudut kepentingan masyarakat, ada beberapa hal yang menjadi tuntutan dalam pelayanan umum, antara lain :
1. Prosedur yang singkat.
2. Sedapat mungkin menghindari terjadinya antrian.
3. Pelayanan yang cepat.
4. Biaya yang ringan.
5. Proses yang bisa dimonitor.
Dari sudut Pemerintah, menjalankan fungsi pelayanan umum secara profesional tidak sekedar mewujudkan sebuah proses pelayanan secara lebih cepat, namun pada kenyataannya lebih kompleks. Melayani pembuatan KTP misalnya, tidak hanya sekedar membuatnya lebih cepat (misalkan 15 menit jadi), namun juga bagaimana mengelola history data kependudukan, prediksi kedepan sebagai bagian dari early warning system, perkiraan kebutuhan jumlah sekolah berdasarkan usia berjalan, jumlah pemilih pemilu, integrasi data dengan data lainnya seperti data pendidikan, data kesehatan, pertanahan, perpajakan, kepolisian dan lain-lain sehingga dapat diwujudkan database kependudukan secara lebih kompleks.
Dengan demikian disamping mengutamakan faktor pelayanan prima kepada masyarakat dalam bentuk :
(1) kecepatan dan kemudahan pelayanan (pelayanan prima) sebagaimana dituntut dari sudut kepentingan masyarakat di atas, e-government juga memiliki kepentingan
(2) memanfaatkan data yang telah diperoleh untuk berbagai kepentingan kedinasan maupun publik. Secara riil informasi yang diperoleh tersebut akan dimanfaatkan bagi pengambilan keputusan dan penyediaan data publik yang bisa di-share melalui website maupun dokumen off-line lainnya.
(3) Verifikasi data merupakan bagian yang sangat penting dalam sebuah pelayanan publik, sehingga dapat dihindari terjadinya duplikasi dokumen publik maupun berbagai kesalahan lainnya.

Apa saja yang dilakukan aktor-aktor dalam inovasi.
PT. Bank Mandiri
Tokoh kunci : Sasmita (Direktur Teknologi & Operasional), Suresh Gumalamm (IT Head)
Menguatkan kekuatan sistem dan organisasi TI diarahkan untuk mewujudkan visi perusahaan menjadi bank terpecaya pilihan amsyarakat. Untuk tujuan ini, tim TI membantu penerapan teknologi TI di seluruh aspek operasional perusahaan, mencakup keuangan, penggajian dan personalia, corporate cash management system, hingga pengadaan logistik.
Untuk mewujudkan hal tersebut PT. Bank Mandiri mengeluarkan anggaran US$ 30 – 40 juta setiap tahun serta didukung SDM di bidang IT sebanyak 310 orang.


Konsultan dan Vendor
- Silverlake Infotama
- Praweda Ciptakarsa Informatika
- Murni Solusindo Nusantara
- Decillion Solution
Membangun sistem IT unggulan untuk PT. Bank Mandiri. Sistem yang berhasil dibangun :
- Intergrated Core System (mulai dari aplikasi treasury sampai back end seperti Interbank Payment System).
- Human Resources Management System
- E-Procurement System.

III. ANALISIS
Inisiator inovasi :
Inisiator inovasi dalam pengembangan sistem pengembangan IT Unggulan di Bank Mandiri adalah para stakeholder. Namun tokoh kunci dalam pengembangan ada pada Sasmita (Direktur Teknologi & Operasional), Suresh Gumalamm (IT Head).

Faktor penggerak inovasi :
Penggerak inovasi lebih bersifat ekonomis. Bagaimana meningkatkan keunggulan perusahaan terutama bidang IT agar bisa bersaing dengan bak atau industri perbankan lain. Dengan meningkatkan daya saing dan kualitas pelayaanan, perusahaan akan meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk menaruh dananya pada PT. Bank Mandiri.

Pengetahuan yang dikembangkan
Melalui pengembangan e-government, dilakukan penataan sistem manajemen dan proses kerja di lingkungan pemerintah dan pemerintah daerah otonom dengan mengoptimasikan pemanfaatan teknologi informasi. Pemanfaatan teknologi informasi tersebut mencakup dua aktivitas yang saling berkaitan, yaitu ;
1. Pengolahan data, pengelolaan informasi, sistem manajemen dan proses kerja secara elektronis.
2. Pemanfaatan kemajuan teknologi informasi agar pelayanan publik dapat diakses secara mudah dan murah oleh masyarakat di seluruh wilayah negara.
Untuk melaksanakan maksud tersebut, pengembangan e-government diarahkan untuk mencapai empat tujuan, yaitu ;
1. Pembentukan jaringan informasi dan transaksi pelayanan publik yang memiliki kualitas dan lingkup yang dapat memuaskan masyarakat luas serta dapat terjangkau di seluruh wilayah Indonesia pada setiap saat tanpa dibatasi oleh sekat waktu dan biaya yang terjangkau oleh masyarakat;
2. Pembentukan hubungan interaktif dengan dunia usaha untuk meningkatkan perkem-bangan perekonomian nasional dan memperkuat kemampuan menghadapi perubahan dan persaingan perdagangan internasional;
3. Pembentukan mekanisme dan saluran komunikasi dengan lembaga-lembaga negara serta penyediaan fasilitas dialog publik bagi masyarakat agar dapat berpartisipasi dalam perumusan kebijakan negara.
4. Pembentukan sistem manajemen dan proses kerja yang transparan dan efisien serta memperlancar transaksi dan layanan antar lembaga pemerintah dan pemerintah daerah otonom.

Implementasi e-government
E-Government ini dapat diimplementasikan dalam berbagai cara, antara lain:
a. Penyediaan sumber informasi, khususnya informasi yang sering dicari oleh masyarakat. Informasi ini dapat diperoleh langsung dari tempat kantor pemerintahan, dari kios info (info kiosk), ataupun dari Internet (yang dapat diakses oleh masyarakat dimana pun berada). Informasi ini dapat berupa informasi potensi daerah sehingga calon investor dapat mengetahui potensi tersebut. Di era otonomi daerah, fungsi penyedia sumber informasi ini dapat menjadi penentu keberhasilan.
b. Penyediaan mekanisme akses melalui kios informasi yang tersedia di kantor pemerintahan dan juga di tempat umum. Usaha penyediaan akses ini dilakukan untuk menjamin kesetaraan kesempatan untuk mendapatkan informasi.
c. E-procurement dimana pemerintah dapat melakukan tender secara on-line dan transparan.

Manfaat yang ditimbulkan dari e-government.


Mudharatnya :
- Hampir dapat dikatakan aspek mudaratnya tidak ada. Namun yang dapat menjadi masalah adalah dengan adanya kekuasan yang demikian besar di tangan pemegangan keputusan.
- Pengambilan keputusan yang cepat di tingkat pusat mengakibatkan peran para pimpinan di cabang atau daerah berkurang atau bahkan tidak dilibatkan.
- Dengan kekuasaan yang besar di tangan pengambil keputusan akan berbahaya bila terjadi penyalahgunan wewenang.


Resistensi
Resistensi dalam proses penggembangan IT Unggulan di Bank Mandiri :
- Mengubah budaya perusahaan yang sudah terbentuk. Setiap perubahan sistem yang paling berat ada;ah dalam change management.


Strategi mengatasi resistensi.
Ada beberapa oleh manajemen Bank Mandiri untuk mengatasi resistensi yang ada. Beberapa langkah yang dilakukan :
- melakukan sosialisasi
- melakukan edukasi
- menerapkan disiplin manajemen proyek standar
- konsisten dalam setiap proyek

IV. KESIMPULAN
Memperhatikan perkembangan pelaksanaan e-government di Indonesia serta hasil-hasil yang telah dicapai hingga saat ini, maka mau tidak mau konsep dan strategi pelaksanaan e-government membutuhkan penyempurnaan di berbagai sisi. Penundaan pelaksanaan revitalisasi e-government hanya akan menjauhkan negeri ini dari cita-cita reformasi yang sebenar-benarnya, yaitu memperbaiki mutu pelayanan publik kepada seluruh masyarakat serta pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan mereka melalui peningkatan efisiensi birokrasi. Inovasi yang dikembangkan dalam e-goverment justru membawa manfaat yang meluas.
E-government jelas mencerminkan berlakunya nilai demokrasi. Pelaksanaan e-government bertujuan untuk mewujudkan good government. Stiglitz (2000) menyatakan bahwa yang membedakan pemerintah dari swasta adalah legitimasi dan hak untuk menetapkan peraturan yang juga mengatur swasta. Pemerintah memiliki hak untuk menetapkan dan memaksa warga negara untuk membayar pajak, meminta untuk melaksanakan wajib militer, dan lain sebagainya yang bersifat paksaan. Namun di sisi lain pemerintah juga memiliki kewajiban mensejahterakan masyarakat dengan dana yang dihimpun dari pajak masyarakat. Segala daya dan upaya harus dilakukan pemeritah agar rakyat yang memberi kepercayaan kepada mereka dapat menikmati kemakmuran.itulah ciri suatu negara yang demokratis.
Jelas bahwa penerapan e-government ini mencerminkan dianutnya nilai kebebasan manusia untuk memperoleh informasi dari pemerintah. Amanah rakyat ini tertuang dalam konstitusi maupun produk – produk hukum dibawahnya sebagaimana tercantum dalam Undang Undang Dasar 1945 (UUD 45), dan Garis – garis Besar Haluan Negara (GBHN). UUD 45 (yang telah diamandemen) Pasal 28F menyatakan:
Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah,dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.
Inilah jembatan yang dirancang oleh Robert Moses di daerah Long Island, New York memiliki tingi hanya sembilan kaki (nine feet) dari curb Bus yang tingginya 12 kaki tidak bisa melewati tinggi jembatan yang hanya 9 kaki. Seperti yang dikatakan Lee Koppleman pada Caro ‘The old son of a gun had made sure that buses would never be able to use his goddamned parkway.’

Do artifact have politic? - Langdon Winner

Social choice in machine design : the case of automatically controlled machine tools – David F. Noble.

Apakah artifak berpolitik? Politik artinya adanya keinginan untuk berkuasa. Langdon Winner menulis bahwa teknologi adalah produk politik. Teknologi menjadi alat dimana kekuasaan dan kepentingan berbagai pihak saling berinteraksi dan kadang bermusuhan. Teknologi tidak pernah bersifat netral tetapi selalu memihak. Artifak sebagai benda karya manusia termasuk desain mesin yang ditulis oleh David F. Noble sebenarnya diciptakan untuk mempermudah kehidupan manusia. Membuat manusia dimanjakan oleh mesin. Bahkan kini di Jepang telah diciptakan android yang bisa meniru sifat manusia meski masih berupa ekpresi wajah. Tetapi semua itu selalu dipengaruhi oleh politik dimana pengetahuan atau teknologi itu dikembangkan.
Artifak seperti halnya mesin bisa pula digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan yang sifatnya politis. Politis di sini bisa sifatnya bisa berdampak positif bisa pula berdampak negatif. Tergantung dari sisi mana kita memandangnya, apa dari pihak yang diuntungkan atau malah yang dirugikan. Seperti pada kasus Robert Moses yang membangun jembatan yang terasa aneh bila melihatnya di daerah Long Island, New York memiliki tingi hanya sembilan kaki (nine feet) dari curb. Berdasarkan bukti-bukti yang dikumpulkan oleh Robert A. Caro dalam penulisan biografi mengenai Moses, memberikan alasan mengenai reflesi bias klas sosial Moses dan prasangka rasial. Automobile-owning white of ‘upper’ and ‘comfortable middle’ classes, as he called them, wouldbe free to use the parkways fir recreation and commuting. Poor people and black normally used public transit, were kept off the roads because twelve-foot tall buses could not get trough the passes. One consequence was limit acces of racila minorities and low income. Bus yang tingginya 12 kaki tidak bisa melewati tinggi jembatan yang hanya 9 kaki. Seperti yang dikatakan Lee Koppleman pada Caro ‘The old son of a gun had made sure that buses would never be able to use his goddamned parkway.’
Robert Moses tidak bisa melepaskan diri dari bias-bias sosial, politik, dan budaya di lingkungannya. Dengan pendekatan konstruktivisme, pengetahuan berkembang karena pengaruh lingkungan di sekitarnya. Pada masa-masa Robert Moses kebencian pada orang kulit hitam (rasialis) sedang mengalami puncaknya. Ini juga yang mempengaruhi cara berpikir Robert Moses.
Kasus yang serupa juga terjadi pada Cyrus McCormick yang menggunakan mesin baru bukan tujuan utamanya bukan untuk mengejar keuntungan tetapi menghancurkan national Union of Iron Molder. Mesin baru yang digunakan McCormick dioperasikan oleh orang-orang yang tidak terampil sehingga mengeluarkan biaya lebih tinggi dibandingkan proses sebelumnya. Meski hanya bertahan selama tiga tahun tetapi McCormick berhasil mencapai tujuannya menghancur serikat pekerja (union). Perkembangan teknologi dapat digunakan kepentingan politik.
Hal yang sama juga kita lihat pada tulisan Jenet Abbate, cold war and white heat : the origin and meanings of packet switching, menggambarkan paket switching menjadi alat politik Amerika Serikat guna menghadapi ancaman pecahnya perang dingin menghadapi Uni Soviet. Di Inggris, paket switching digunakan sebagai alat kampanye Partai Buruh dalam menghadapi ‘technology gap’ dengan Amerika Serikat. Politicians on all side warned that nation was falling behind the other industril powers in its exploitation of hew technologies, that was a’brain drain’ of British scientist to other countries, and that the country’s technological backwardness was at least partly responsible for its economic malaise.
Tulisan Langdon Winner juga memberikan beberapa contoh lainnya seperti Russel W. Ayres yang menulis mengenai tentang politik teknologi plutonium serta ketakutan akan terjadi pencurian teknologi plutonium dan jatuh ke tangan kriminal atau teroris. Teknologi Plutonium di tangan yang salah bisa menyebabkan kehancuran. Kekerasan bukan melekat pada artifak tersebuy tetapi pada mereka yang menguasainya.
Industri mesin yang otomatis (tulisan David F. Noble) juga bisa digunakan alat untuk mencapai tujuan atau memperoleh keuntungan dari perubahaan sistem yang lama. 'We will see some companies die, but I think we will see other companies grow very rapidly,' a sanguine president of Data Systems Corporation opined (Stephanz 1971). Less sanguine are the owners of the vast majority of the smaller meta lworking firms which, in 1971, constituted 83 percent of the industry; they have been less able to adopt the new technology because of the very high initial expense of the hardware, and the overheads and difficulties associated with the software.
Otomatisasi mesin juga mengakibatkan semakin kuatnya kedudukan pemilik modal. Lihat saja pada indusri-industri maju sekarang, buruh hanyalah sebagai operator yang sewaktu-waktu dapat diganti. Posisi pekerja semakin melemah terhadap pemilik modal.
Sebelumnya seorang pekerja menguasai pekerjaan mulai dari pengolahan bahan mentah, proses pembuatan barang sampai proses akhir. Sehingga pekerja punya posisi tawar menawar yang kuat. Namun lama kelamaan keahlian ini semakin berkurang. Mungkin sekarang hanya bisa bekerja di bagian pengolahan bahan mentah atau hanya di bagian fisnishing tetapi tidak pernah menguasai keduanya. Inilah industrialis kapitalis.
Manusia yang harus menguasai mesin dan bukan mesin menguasai manusia seperti yang digambarkan dalam film Terminator. Namun manusia harus bijak dalam menggunakan teknologi bukan semata-mata mencari keuntungan dengan mengorbankan bahkan menghancurkan kepentingan pihak lain.

Kesimpulan dari dua tulisan ini adalah pengetahuan adalah teknologi tidak dapat lepas dari kepentingan dan prasangka sosial, politik, dan budaya. Para ilmuwan tidak dapat berdiri sendiri tapi terlibat dengan lingkingan dan kontruksi politik yang ada di sekelilingnya. Ilmuwan hidup dalam kekuasan politik yang kadang membantu dan kadang menghambat dalam melakukan penelitian. Tekanan politik membuat ilmuwan lebih memihak kepada kepentingan penguasa dibandingkan kepentingan rakyat. Idealis di pikiran tetapi realistis di lapangan. Teknologi terlihat lebih memihak kepada penguasa atau pemilik modal dibandingkan rakyat. Rakyat yang lemah dijadikan korban dari teknologi. Semestinya rakyat diikutsertakan untuk berperan lebih banyak dalam pengembangan teknologi. Ini yang harus dibenahi, tapi sampai kapan?
Kesimpuan lainnya adalah bahwa teknologi bermata dua. Dapat digunakan untuk kebaikan tetapi juga bisa digunakan untuk kejahatan. Seperti penemuan di bidang nuklir, bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia sebagai sumber energi alternatif atau digunakan sebagai bahan penghancur. Teknologi tidak pernah bersifat netral tetapi selalu berkubang pada kondisi politik, dimana yang berkuasalah yang menguasai teknologi.