Kamis, 30 Juni 2011

AJB BUMIPUTERA 1912 VERSI 2.0

Oleh : Herman Wahyudhi


Gaudeamus igitur, juvenes dum sumus

Post jucundam juventutem,

Post molestam senectutem

Nos habebit humus.

Karena itu bersukacitalah, selagi kita masih muda

Setelah masa muda yang menyenangkan

Setelah masa tua yang menyusahkan

Kita akan mati (harfiah: tanah akan memiliki kita)

Bait pertama dari De Brevitate Vitae, sebuiah essai moral pendek yang ditulis oleh seorang filsfuf Romawi bernama Seneca kepada temannya Paulinus. Gunakanlah waktu muda sebaik mungkin sebelum maut menjemput manusia. Ini rasanya pas untuk menggambarkan perlunya kita memiliki asuransi. Salah satunya yang perlu disiapkan dalam menghadapi hari tua agar tidak dalam keadaan kesusahan.

Di Indonesia, untuk istilah asuransi sering digunakan istilah pertanggungan, kedua istilah ini tampaknya mengikuti istilah dalam bahasa belanda assurantie (asuransi) dan verzekering (pertanggungan). Memang asuransi di Indonesia bermula dari Negeri Belanda.

Menurut pasal 246 Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD), asuransi mempunyai pengertian sebagai berikut :

“Asuransi atau pertanggungan adalah suatu persetujuan, dimana penanggung kerugian diri kepada tertanggung, dengan mendapat premi, untuk mengganti kerugian karena kehilangan kerugian atau tidak diperolehnya suatu keuntungan yang diharapkan, yang dapat doderita karena persitiwa yang tidak diketahui lebih dahulu.”

Sedangkan definisi asuransi menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1992 tentang no.2 tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransian Bab 1 pasal 1 yang berbunyi sebagai berikut:

“Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan pernggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan,atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.”

Masih ada saja masyarakat yang alergi mendengar kata asuransi. Terbayang oleh susahnya mengklaim asuransi, prosedur yang berbelit-belit, pelayanan yang tidak ramah, membayar premi yang mahal namun tidak bisa digunakan ketika dibutuhkan, dan masih banyak alasan lain. Hal ini membuat sebagian menganggap asuransi hanyalah sebagai penipuan. Ada yang bilang pihak asuransi bersikap manis di muka tetapi pahit di belakang.

Gambaran ini juga tercermin dari penetrasi produk asuransi di Indonesia yang masih relative kecil, yakni baru 4 persen. Populasi penduduk Indonesia sangat besar tapi yang tergarap masih sangat rendah. Business Monitor International menyebutkan tingkat penetrasi asuransi jiwa di Indonesia, masih sangat rendah. Baru mencapai1,26% dari GDP, dengan total nilai pertanggungan rata-rata hanya sekitar Rp 78 juta per pemegang polis.

Sangat jauh dibandingkan dengan Hong Kong, yang mencapai 50 persen. Apalagi dibandingakn dengan negara maju seperti Jepang, Singapura, dan Amerika Serikat hampir semua peduduknya memilki auransi jiwa, bahkan di Jepang asuransi jiwa merupakan salah satu syarat bagi seorang pria dianggap layak untuk berkeluarga. Maka tak heran kalau asuransi di Jepang tumbuh mencapai 300 – 400% atau satu orang Jepang rata-rata memliki 3 sampai 4 polis asuransi. Masih di Jepang, anjing pun anjing ikut diasuransikan. Man best friend ini menurut Anicm Insurance yang bermarkas di Tokyo, bahwa jumlah konsumen yang mengikat kontrak asuransi untuk hewan peliharaan sudah mencapai 110.000 orang. Padahal baru 6 bulan perusahaan tersebut merilis “Dobutso Kempo” atau asuransi kesehatan binatang peliharaan.

Di Indenonesia, saat ini tercatat 46 perusahaan asuransi yang beroperasi dan 4 perusahaan reasuransi. Dalam jangka panjang, secara nasional perusahaan asuransi di Indonesia ditargetkan bisa memiliki aset Rp 500 triliun pada 2014. Salah satu perusahaan asuransi nasional tertua dan sangat dikenal masyarakat adalah AJB Bumiputera yang telah 99 tahun mengembangkan sayapnya di bumi Nusantara ini. Mulai dari zaman penjajahan Belanda, zaman penjajahan Jepang, masa kemerdekaan , dan hingga saat ini, AJB Bumiputera 1912 terus berkembang.

AJB Bumiputera 1912 juga dianugerahi sebagai Greatest Brand Award of Decade oleh Marketeers dan MarkPlus untuk kategori corporate oleh dua versi penjurian, yakni versi Editor’s Choice dan versi Netizen’s. Editor’s Choice berisikan juri-juri yang meruoakan komuniytas dari marketer sedangkan Netizen’s Choice dipilih oleh masyarakat yang memilih melalui Facebook Marketeers Fan Page. Penghargaan ini merupakan bentuk pengakuan masyarakat kepada Bumiputera sebagai brand asuransi terbaik sepanjang dekade 2000-2010. Menurut CEO MarkPlus, Hermawan Kartawijata, AJB Bumiputera sebagai perusahaan asuransi dalam kurun waktu 10 terkahir ini konsisten dalam mengembangkan dan meningkatkan kinerja perusahaan.

AJB Bumiputera 1912 sebagai perusahaan adaptif organik harus terus melakukan terobosan dan inovasi agar dapat bersaing dengan perusahaan asuransi lain terutama perusahaan asuransi asing yang datang ke Indonesia dengan dana besar, jaringan yang kuat, dan teknologi yang maju. Organisasi yang adaptif-organik menurut Kast dan Rosenzweigt (2007) berlaku hal sebagai berikut : lingkungan yang relatif tidak pasti dan bergejolak, sasaran beragam dan berubah-ubah, teknologinya kompleks dan dinamis, banyak kegiatan yang tidak rutin dimana inovasi adalah hal yang penting, serta proses pengambilan keputusan yang dipakai adalah heuristik dan kordinasi dan pengawasan dicapai melalui penyesuaian timbal balik dimana sistemnya kurang hierarkis dan lebih fleksibel. Sebagai sebuah perusahaan asuransi, AJB Bumiputera 1912 harus terus melakukan terobosan dan inovasi

AJB Bumiputera 1912 versi 2.0

“A scientific and technological society. It employs new techniques whether it is in farm, in the factory or in transport. Modern technique is not a matter of the just getting a tool and using it. Modern technique follows modern thinking. You can’t get hold of a modern tool and have an ancient mind. It won’t work”.

- Jawaharlal Nehru

Salah satu inovasi yang perlu dilakukan adalah memanfaatkan perkembangan teknologi informasi yang berkembang demikian pesat. Perusahaan yang tidak mengikuti perkembangan teknologi ini akan tersingkir dari persaingan global. Dalam buku The World is Flat (2006) Thomas L. Friedman menulis bahwa saat ini manusia memasuki era globalisasi versi 3.0 dimana peran individu lebih dominan dan mengglobal. Internet membuat seorang individu bisa menjangkau seluruh dunia dalam hitungan detik. Seolah-olah dunia berada di ujung jari.

Seperti judul tulisan di atas, AJB Bumiputera 1912 versi 2.0 selain artinya sebagai perpindahan dari manajemen konvesional menuju manajemen digital, juga artinya AJB Buimiputera bersiap utuk menghadapi masa siklus hidup ke abad kedua pada tahun 2012. Tidak banyak perusahaan yang bisa bertahan lebih dari satu abad. Sebagaian tumbang di tengah jalan karena tidak mampu berkompetisi. AJB Bumiputera 1912 harus dapat memanfaatkan cepatnya perkembangan teknologi informasi terutama internet dan handphone.

Ada beberapa alasan mengapa internet punya peranan penting dalam pengembangan bisnis suatu perusahaan, yaitu :

· Akses ke seluruh dunia yang tidak mengenal waktu dan tempat. Kapan saja dan di mana saja.

· Jangkauannya yang luas. Internet bisa menjangkau seluruh dunia bahkan di daerah terpencil pun seperti di pedalaman atau di pergunungan asal terkoneksi dengan jaringan telekomunikasi.

· Waktu akses yang cepat. ASAP alias as soon as possible. Dalam hitungan detik data dan informasi berupa gambar, video, bahan presentasi, bisa terkirim.

· Tersedia begitu banyak informasi dari segala penjuru dunia. Maka tak aneh jika muncul istilah tanya saja ‘Mbah Google’ (sebagai search engine, Google bisa menyediakan begitu banyak informasi di jaringan internet).

· Biaya akses jaringan internet yang setiap tahun semakin murah sedangkan kecepatan akses justru semakin meningkat pesat.

Menurut data International Telecommunication Union (ITU) yang bernaung di bawah PBB, jumlah pengguna internet di dunia pada tahun 2011 telah mencapai sekitar 2 milyar pengguna. Sedangkan jumlah pengguna telepon seluler telah mencapai lima miliar padahal pada awal 2000 hanya ada 500 juta pelanggan mobile secara global dan 250 juta pengguna internet.

Di Indonesia berdasarkan data dari Effective Measure, firma yang memiliki spesialisasi dalam pengukuran statistik web, pengguna internet di Indonesia di tahun 2011 mencapai 39.100.000 orang (peringkat ke-8 di dunia). Sebanyak 61,88 persen dari pengguna Internet Indonesia Jika mengacu pada data tersebut, maka pengguna internet mobile di Indonesia adalah sekitar 24.195.080 orang mengakses melalui ponsel.

Faktor yang menyebabkan meningkatnya jumlah pengguna internet mobile selain kemudahan akese data adalah menjamurnya peredaran smartphone merupakan faktor utama meningkatnya jumlah netter yang mengakses internet via ponsel. Disusul oleh berbagai ponsel murah yang telah memiliki fitur web browsing. Juga, situs-situs social network sangat populer di Indonesia, sehingga pengguna internet tidak bisa berlama-lama tidak membuka akun social network masing-masing, dan akses via ponsel atau mobile menjadi pilihan utama. Ditambah lagi dengan tarif akses data internet yang semakin murah dari hari ke hari.

Mengapa informasi begitu penting bagi individu-individu yang ingin maju? Sebab, kita semua hidup dalam suasana kompetisi yang semakin keras. Bill Gates, bos Microsoft dan manusia terkaya di dunia menulis sebuah buku luar biasa berjudul Business @the Speed of Thought. Buku ini menyebutkan bahwa informasi sekarang ibarat darah manusia. Jika ingin bergerak dengan sangat cepat, jangan sampai kekurangan darah. Jika ingin survive, jangan sampai kehabisan supply informasi.

Mereka inilah yang menjadi sasaran pasar bagi AJB Bumiputera 1912 versi 2.0.

Handphone dengan akses internet ini bisa dimanfaat untuk :

1. Sebagai support online yang bekerja 24 jam dalam 365 hari dengan beberapa website utama dan website pendukung seperti blog dan facebook.

2. Menjalin kedekatan antara AJB Bumiputera dengan nasabah. Misalkan mengucapkan selamat ulang tahun kepada nasabah yang berulang tahun dan memberikan hadiah voucher makan atau barang.

3. Siap berbagi informasi secara lengkap, terbuka, & objektif. Menjadi media feed back dari masyarakat terhadap produk-produk yang dikembangkan.

4. Menjaga hubungan komunikasi dengan nasabah secara periodik melalui email, sms, telphone, maupun kunjungan.

5. Memberikan laporan mengenai status polis asuransi nasabah setiap jangka waktu tertentu.

6. Memberikan informasi cepat dan update seputar dunia asuransi AJB Bumiputera 1912 baik melalui website, email, facebook, twitter,dan jejaring sosial lainnya.

7. Membantu proses kelengkapan persyaratan klaim, pengarsipan hingga sampai pada tahap pendampingan realisasi pembayaran Klaim.

8. Menyampaikan progress klaim asuransi dan pendampingan lainnya baik melalui telephone maupun email kepada nasabah.

9. Jangkauannya yang luas bahkan sampai keluar wilayah Indonesia. Sehingga nasabah selalu terhubiung dengan AJB Bumiputera 1912.

10. Memberi masukan kepada nasabah seputar asuransi, perencanaan keuangan dan invertasi.

Manfaat lain dari perkembangan teknologi informasi ini terhadap organisasi adalah berkurangnya penggunaan kerja dalam kegiatan perusahaan (paperless). Sebagai contoh, ada sebuah perusahaan asuransi di Singapura NTUC Income yang telah mengubah 40 juta halaman data yang dimilikina menjadi dokumen elektronik yang dapat digunakan sebagai barang bukti di pengadilan. Data yang terdigitalisasi membuat perusahaan setiap tahunnya menghemat US$ 6 juta dari proses pekerjaan yang sudah tidak menggunakan kertas lagi.

AJB Bumiputera 1912 juga bisa membuat database center seperti yang dilakukan perusahaan kartu kredit-kartu kredit yang ada di Indonesia. Layanan call center ini dilayani oleh petugas 24 jam sehingga kapan pun ada pertanyaan atau masalah dapat terjawab. Para pemegang polis ini dapat mengakses layanan dengan memasukan kode yang dikirim oleh pihak AJB Bumiputera 1912 dikombinasi dengan nomor polis sehingga langsung terhubung dengan database mereka sehingga bisa diketahui dengan segera informasi mengenai nasabah yang bersangkutan.

Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera harus bisa menyesuaikan dengan perubahan zaman. Istilah Yunani “Panta rhei kai uden menei” ini adalah sepenggal kalimat berbahasa Yunani yang amat popular pada masa Herakleitos, seorang filsuf Yunani Kuno yang hidup 500 SM. Ajaran tersebut mengartikan bahwa segala sesuatu mengalir dan tidak pernah berhenti bagaikan sungai.

Namun kinerja AJB Bumiputera 1912 sudah teruji selama hamper satu abad. Tetapi asuransi Bumiputera dengan usia yang sudah hampir satu abad ini mestinya sudah bisa ‘go international’. Kenyataannya dewasa ini makin banyak perusahaan-perusahaan asing yang masuk menyerbu Indonesia dan menjadi kompetitor. AJAB Bumiputera 1912 dituntut untuk selalu meningkatkan pelayanan kepada nasabah. Salah satu caranya adalah dengan memberikan informasi yang bersifat mobile. Di jaman teknologi informasi ini semua harus dibuat mudah, transparan dan tidak berbelit-belit.

Ada beberapa media utama teknologi informasi yang perlu dikembangkan oleh AJB Bumiputera 1912 untuk menjaring para generasi muda untuk ikut berasurans dan membuka peluang pemasaran yang lebih luas, diantaranya :

1. Layanan chatroom. Ini penting untuk menghubungkan nasabah dengan pihak AJB.

2. Facebook yang terkesan kurang greget. Saat ini pengguna facebook mencapai 571.884.500 pengguna, dan 31.784.080 diantaranya berasal dari negara Indonesia yang merupakan Pengakses/ pengguna terbesar Facebook kedua yang berada dibawah Amerika Serikat yang mencapai pengguna dengan angka 146.805.000.

3. Twitter. Memiliki populasi penduduk urutan 4 terbanyak di dunia, dengan jumlah diatas 230 juta orang, tentunya jumlah pengguna internet di Indonesia sangatlah banyak dan terus berkembang. Menurut riset Sysomos, jumlah pengguna Twitter di Indonesia adalah urutan 6 di dunia, dan Jakarta adalah ibukota Twitter di Asia, mengalahkan Tokyo.

4. Blog. Sebenarnya membuat blog tidaklah sukar. Sumber Daya Manusia terutama yang berlatar belakang TI bisa diberdayakan untuk menyebarkan informasi mengenai AJB Bumiputera.

5. Mig33. Di Dunia, pengguna Mig 33 saat ini mencapai 40 juta anggota, dan di Indonesia sendiri ada sekira 20 juta anggota. Bahkan mereka punya acara kopi darat untuk saling berbagi inforrmasi.

6. Email. Rata-rata orang sudah memiliki e-mail. Apalagi anak muda yang selalu mobile. Sudah banyak handphone dan provider telekomunikasi menyediakan fasilitas pull email atau push email.

7. Milis. Dikelola oleh AJB Bumiputera 1912. Fungsinya hampir mirip dengan chatroom namun fasilitas milis ini bisa menyimpan arsip-arsip tanya jawab dan diskusi yang telah lalu. Berbeda dengan chatroom. Komunikasi cenderung tertutup dan data hasil pembicaraan berlangsung real time namun tidak tersimpan dalam jaringan internet.

Keputusan implementasi teknologi informasi merupakan fenomena kompleks. Kompleksitas tarsebut dapat diamati dari realitas kompleksitas teknologi, perencanaan, sumberdaya yang diperlukan, serta tahap-tahap dalam proses implementasi tersebut. Dalam setiap tahap prosesimplementasi, organisasi senantiasa dihadapkan pada pertanyaan pokok, bagaimana mengkomunikasikan inovasi tersebut agar dapat diterima target pemakai dan bagaimana agar implementasinya berhasil.

Pada konteks organisasional, Kwon dan Zmud (dalam Fichman, 1992), mengembangkan model implementasi teknologi yang terdiri dari 6 tahap, yaitu initiation, adoption, acceptance, routinization, dan infusion, Gambar berikut mengilustrasikan tahap-tahap impelementasi teknologi informasi .

Gambar 1. Tahap-tahap implementasi teknologi informasi.

Penjelasan dari gambar di atas adalah sebagai berikut :

1. Tahap unfreezing

Yaitu ekplorasi terhadap permasalahan-permasalahan atau tantangan organisasi yang dapat dipecahkan dengan implementasi inovasi. Pada tahap ini, pengambil keputusan melakukan pencarian informasi, baik dari sumber internal maupun eksternal. Tahap unfreezing secara aktual ditandai oleh inisiasi, yaitu kesadaran bahwa masalah atau peluang organisasi dapat dipecahkan dengan teknologi baru. Tahap ini dapat dipicu oleh kebutuhan organisasi (organization pull) atau tekanan teknologi (technological push) atau keduanya. Pada umumnya, baik dorongan kebutuhan organisasi maupun tekanan teknologi berlangsung secara simultan, karena keduanya saling berkaitan.

2. Tahap perubahan (change)

Yaitu persiapan menggunakan inovasi sampai inovasi tersebut siap diimplementasikan. Tahap perubahan terdiri dari adopsi dan adaptasi.

a. Adopsi adalah pengambilan keputusan yang ditandai dengan pertimbangan rasional, ditandai dengan komitmen menginvestasikan sumber daya untuk implementasi inovasi.

b. Adaptasi adalah proses persiapan dan penyesuaian yang diperlukan agar inovasi sistem baru siap digunakan.

3. Tahap refreezing

Ditandai mulai diimplementasikan sistem baru, dalam arti inovasi mulai diterapkan, meliputi penerimaan user, penggunaan aktual user, dan penggunaan secara menyeluruh dalam unit organisasi (incorporation) atau infusi.

Generasi Muda sebagai Pasar Asuransi di Masa Depan

Pepatah lama : Sedia payung sebelum hujan

Pengamat Ekonomi Chatib Bisri juga menilai, prospek industri asuransi di Indonesia terbuka lebar. Struktur penduduk Indonesia yang masih muda dan cenderung konsumtif merupakan potensi pasar yang bisa dikembangkan dengan baik. Masyarakat Indonesia cenderung konsumtif, generasi muda itu bagus diarahkan untuk berasuransi.

Disebutkan Bank Dunia, lebih dari setengah penjualan baru sekadar menggantikan pengguna yang hilang. Dari pengguna itu, 95 persen pemutusan kontrak disebabkan pengguna berhenti membayar dan menyerah. Menurut Bank Dunia, ini menunjukkan bahwa konsumen di Indonesia kurang percaya pada komitmen simpanan jangka panjang, termasuk kontrak asuransi jiwa.

Di sisi lain, hasil kajian Swiss Re, perusahaan reasuransi terbesar kedua di dunia, memperlihatkan bahwa industri asuransi nasional, baik jiwa atau pun umum, hanya berada di posisi 41 dari 174 negara dalam hal total volume perolehan premi dan peringkat empat di antara negara Asean.

Pasar besar, dan bisa dilihat berdasarkan umur atau pendapatan. Dulu pembeli asuransi kebanyakan berumur 45 tahun ke atas. Sekarang bergerak di sekitar usia 20 tahun dan awal 30 tahun Kalau dilihat dari hasil sensus penduduk, ada 90 persen warga di bawah usia 39 tahun. Inilah potensi pasar asuransi. Kalau dilihat dari pendapatan, paling tidak mereka yang berpenghasilan Rp 3-3,5 juta sebulan.

Russel Conrad, Regional Director South East Asia Effective Measure, pada keterangannya, 15 Juni 2011 yang dikutip dari Vivanews bahwa lebih dari 9 juta pengguna Internet di Indonesia atau sekitar 28 persen dari seluruh pengguna Internet di negeri ini adalah mereka yang berusia di antara 25 sampai 30 tahun. Kelompok inilah, disebut juga sebagai Digital Natives, yang membentuk tren yang terjadi di dunia maya.

Selain jumlah populasinya merupakan yang terbesar, kelompok pengguna Internet dari usia ini merupakan kelompok yang paling berpengaruh. Lebih dari 1,6 juta Digital Natives mengakses mobile Internet pada Mei lalu.

Per Mei 2011, pengguna Internet dominan lain di Indonesia adalah dari kalangan usia 21 sampai 24, usia 35 sampai 40, kemudian usia 31 sampai 34. Pengguna berusia 15 sampai 20 tahun berada di posisi berikutnya. Adapun persentase jumlah pengguna internet yang paling sedikit adalah berasal dari usia 51 sampai 54 tahun. Generasi muda adalah kekuatan Word of Mouth Marketing (WOMM) diantara anak muda ini sangat kuat. Melalui mulut ke mulut atau jejaring sosial, suatu brand prosuk akan cepat beredar di antara mereka tanpa perlu adanya promo iklan. Bila brand sudah melekat dalam ingatan para pemuda, maka brand image ini akan bertahan lama hingga mereka tua dan kemungkinan tradisi tersebut diwariskan kepada anak dan cucu mereka di masa yang akan datang.

Banyak anak muda yang merasa tidak perlu untuk mengiukuti asuransi karena merasa mereka tidak punya tanggungan dan merasa usia mereka masih muda serta perjalanan hidup masih panjang. Memang salah satu alasan penting mengapa ikut asuransi adalah menjaga agar keluarga kita dapat tetap hidup nyaman dan terjamin walaupun kepala rumah tangga yang selama ini menjadi penopang keluarga mengalami musibah sehingga tidak dapat memberikan uang untuk kehidupan sehari-hari keluarganya. Ikut asuransi bukan berarti berharap cepat-cepat meninggak tetapi sebagai bentuk investasi generasi muda untuk masa depan mereka sendiri.

Sebenarnya dengan mengikuti asuransi sejak usia muda punya banyak keuntungan. Manfaat yang bisa diperoleh antara lain uang premi per bulan yang lebih murah dibandingkan mereka mengikuti asuransi di usia yang lebih tua. Selain itu pembayaran premi dapat lebih cepat memberikan perlindungan seumur hidup kepada pemegang polis. Dengan premi yang lebih kecil akan didapat berbagai manfaat di usia muda seperti asuransi jiwa, asuransi kecelakan, asuransi premi dan manfaat investasi di usia pensiun.

Beberapa Pendekatan AJB Bumiputera terhadap generasi muda

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh AJB Bumiputera 1912 untuk mendekatkan diri dengan generasi muda yang notebene calon nasabah mereka di masa depan. Pendekatan dilakukan melalui media promosi yang dekat dengan kegiatan generasi muda seperti :

1. Mensponsori kegiatan generasi muda sejak dini terutama mereka yang termasuk usia produktif seperti kegiatan bazaar, pekan olah raga antar sekolah atau univeristas, acara pentas musik dan kegiatan seni lainnya.

2. Memberikan beasiswa atau polis asuransi pendidikan kepada siswa-siswa yang berprestasi dan kurang mampu. Ini menunjukan kepedulian AJB Bumiputera kepada pendidikan untuk masa depan generasi muda.

3. Membagikan booklet, brosur, cd, stiker yang bergaya anak muda, dan souvenir lain kepada para generasi muda yang bentuknya unik seperti bros, gelang karet, dan lainnya.

4. Merangkul idola para generasi muda untuk memberikan penjelasan mengenai asuransi seperti pemain band, olahragawan, politikus, sampai model sinetron.

5. Memberikan pelajaran sedini mungkin mengenai asuransi. Manajemen AJB Bumiputera 1912 memang pernah mengusulkan kepada Kementerian Pendidikan Nasional untuk memasukkan kurikulum pelajaran asuransi di sekolah-sekolah namun hingga saat ini buat terealisasikan. Padahal penting untuk menanamkan kesadaran mengenai pentingnya asuransi kepada masyarakat sedini mungkin.

6. Iklan mengenai pentingnya asuransi untuk generasi muda di media masa seperti majalah remaja, radio, televisi, dan internet.

Lalu Bagaimana dengan Masyarakat kelas Menengah ke Bawah?

Di Indonesia, masyarakat yang terkover asuransi masih sangat terbatas. Dari total penduduk 230 juta jiwa saat ini, baru 95,1 juta jiwa yang terlindungi jaminan sosial. Dengan kata lain, ada sekitar 134,9 juta jiwa penduduk Indonesia yang jaminan sosialnya belum teratasi, khususnya asuransi dan jaminan kesehatan. Masih banyak kalangan miskin yang asuransinya belum tercover. Padahal mereka juga membutuhkan perlindungan dan jaminan kehidupan, terutama jiwa dan kesehatan. Saat ini, menurut data Badan Pusat Statistik per Maret 2010, jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 31,02 juta jiwa, atau 13,33 persen dari total penduduk Indonesia.

Pada tahun 2010 pemegang akun di Bank Indonesia sekarang 112 juta orang. Empat tahun lalu hanya 58 juta orang. Dana yang dihimpun hampir Rp 2.600 triliun. Yang berkembang memang menengah ke atas. Memang potensi pasar asuransi lebih ke kalangan menengah ke atas, lalu bagaimana dengan masyarakat menengah ke bawah?

Asuransi pada dasarnya diperuntukkan untuk semua orang. Namun kendalanya tidak semua orang mampu membayar premi. Di Indonesia sendiri sudah banyak orang yang peduli akan hal ini, memang pernah direncanakan pada tahun 2014 Pemerintah Indonesia akan memberlakukan wajib asuransi, semoga rencana ini bisa terwujud sehingga tidak ada lagi anak yang terlantar pendidikannya dan tidak ada lagi orang tidak mampu membayar biaya rumah sakit yang setiap tahun semakin mahal. Semoga saja bisa direalisasikan dan jangan hanya sebagai wacana semata alias NATO (Not Action Talk Only).

Mengacu pada Bank Dunia,bahwa yang termasuk dalam kriteria garis kemiskinan adalah mereka yang hidup dengan purchasing powerparity sebesar 2 dollar AS (sekitar Rp. 18.000) per hari. Itu artinya ada sekitar 50,6 peren atau sekitar 117 juta dari 233 juta jumlah penduduk Indonesia yang tergolong sangat miskin. Sedangkan data BPS pada tahun 2010 menggunakan kriteria yang lebih rendah lagi untuk menentukan mereka yang termasuk miskin. Mereka yang tergolong miskin adalah yang memperoleh pendapatan minimal rata-rata Rp. 211.726 atau sekitar Rp.7.000 per hari. Jadi hanya ada sekitar 13,33 persen atau 31 juta jiwa. Bagaimana mau ikut asuransi, wong mau makan sehari-hari saja sudah susah. Itu mungkin pikiran sebagain besar masyarakat yang berada pada garis kemiskinan. Mereka menganggap asuransi sebagai kebutuhan tersier setelah sandang, pangan, dan papan. Asuransi adalah barang mewah buat mereka.

Salah satu alternatif pembiayaan untuk masyarakat menengah ke bawah ini adalah konsep micro-insurance. Menurut definisi The International Association of Insurance Supervisors adalah “Perlindungan diberikan kepada masyarakat berpenghasilan rendah dari peristiwa kemalangan dengan membayar premi secara proporsional dengan probabilitas terjadinya peristiwa kemalangan tersebut dan tingkat biaya risiko yang terkandung di dalamnya.”

Menurut Craig Churchill dalam Protecting the Poor: A Microinsurance Compendium (2006),micro insurance adalah “the protection of low-income people against specific perils in exchange for regular monetary payments (premiums) proportionate to the likelihood and cost of the risk involved. As with all insurance, risk pooling under microinsurance attempts to allow many individuals or groups to pool risks and redistribute the costs of the risky events within the pool.”

Jadi, pada hakikatnya, micro-insurance memiliki tujuan yang sama dengan produk atau program asuransi tradisional, yakni memungkinkan konsumen untuk mentransfer risiko dengan membeli perlindungan yang mereka butuhkan buat melindungi kehidupan maupun usahanya. Manakala berhadapan dengan peristiwa kemalangan, masyarakat berekonomi lemah alias berpenghasilan rendah akan mengalami dampak jauh lebih buruk terhadap kualitas hidup dan konsumsi. Mereka adalah kelompok masyarakat yang paling rawan terhadap risiko, tapi pada saat yang sama tidak terlindungi dari akibat-akibat buruk yang ditimbulkan oleh risiko itu.


Dengan
mengikuti program micro insurance, masyarakat berpendapatan rendah bisa terlindungi aliran penghasilannya akibat risiko tertentu sehingga menghindarkan mereka untuk kembali jatuh miskin. Dengan demikian, keluarga ini bisa berkonsentrasi untuk pembiayaan anak-anak mereka, kesehatan mereka, dan memperbaiki kualitas hidup mereka. Selain itu, meningkatkan keterampilan mereka untuk memperbesar sektor formal yang ditekuni sehingga mengangkat kesejahteraan mereka.

Selaian itu, AJB Bumiputera 1912 tidak hanya mengenalkan produk asuransi, tapi juga kredit mikro yang dikemas dalam program corporate social responsibility (CSR) tanggung jawab sosial dari perusahaan. AJB Bumiputera 1912 dapat melakukannya dengan menggerakan usaha para generasi muda terutama mereka yang mempunyai usaha kecil dan menengah dengan memberikan bantuan kredit mikro, bimbingan dan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan mereka. Dengan peningkatan keterampilan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan hidup mereka. Sumber Daya Manusia AJB Bumiputera 1912 dapat dilibatkan dalam program ini dengan memberikan pendampingan terhadap generasi muda dalam perencanaan keuangan. Usaha ini juga dapat menciptakan lapangan kerja di sekitar mereka tinggal, yang akhirnya ikut mengangkat perekonomian generasi muda lainnya.

Penutup

Jadilah tuan di negeri sendiri, AJB Bumiputera 1912. Semoga AJB kembali bertahan untuk satu abad ke depan. Selain itu AJB Bumiputera jarang sekali beiklan di media massa. Perusahaan asuransi lain menampilkan iklan sampai dua halaman penuh di sebuah media surat kabar terkemuka nasional, dan ada yang dalam sehari beberapa kali muncul iklannya di televisi. AJB Bumiputera 1912 harus lebih memasarkan diri, karena selain kita yang memasarkan diri kita sendiri, who else?

Menjadikan AJB Bumiputera 1912 sebagai powerhouse Indonesia. Menurut Rhenald Kasali (2008), powerhouse yaitu perusahaan-perusahaan besar dari suatu yang menjadi penting karena: pertama, menciptakan lapangan pekerjaan dalam jumlah sangat besar. Kedua, perusahaan tersebut adalah penyumbang GDP dan penerimaan negara yang sangat penting. Ketiga, mengembangakan teknologi baru. Dan keempat, bagi negara-negara berkembang powerhouse adalah simbol kemajuan bangsanya.

Semoga saja AJB Bumiputera 1912 versi 2.0 mampu mewujudkan mimpi tersebut. Selamat ulang tahun yang ke-99.

Kamis, 30 Desember 2010

USO ORA ISO? CSR ISO. Peran Operator Seluler dalam Meningkatkan Perekonomian Daerah Tertinggal.

[i]

Oleh Herman Wahyudhi

PENDAHULUAN
Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal, Ahmad Helmy Faishal Zainal dalam sebuah semiloka mengenai Pengetasan Daerah tertinggal di Jakarta beberapa wakrtu yang lalu mengungkapkan bahwa di Indonesia terdapat 92 pulau terluar yang terisolir dan 183 Kabupaten yang dinyatakan tertinggal. Kementeriaan Pembangunan Daerah Tertinggal menginginkan agar daerah tertinggal dan desa sebagai daerah pertumbuhan baru. Masyarakat di daerah tertinggal memiliki keterbatasan dalam mengakses informasi untuk meningkatkan taraf kesejahteraan mereka. Padahal Pasal 28 F dari Amandemen Kedua Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan bahwa :
“Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.”
Ada beberapa isu-isu penting harus dipahami dan dicarikan jalan keluarnya apabila bebicara tentang daerah tertinggal. Pertama adalah keterisolasian, kedua adalah lemahnya sumberdaya manusia (SDM) dan ketiga adalah infrastruktur. Untuk mengurangi keterisolasian perlu bantuan teknologi telekomunikasi dan informasi. Aspek ini memiliki peranan penting dalam mempercepat proses pembangunan daerah-daerah terisolasi dan tertinggal.
Selama ini produk-produk yang dihasilkan oleh daerah tertinggal dan daerah pedalaman pendistribusiannya hanya berputar-putar di sekitar daerah mereka saja. Padahal produk yang dihasilkan akan mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi bila dipasarkan ke daerah-daerah perkotaan. Namun keterbatasan informasi di daerah-daerah tertinggal membuat produk-produk mereka tidak dikenal seperti kata pepatah, tak kenak maka tak sayang.
Disinilah letak pentingnya peran operator seluler sebagai bagian dari industri telekomunikasi sebagai entitas yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan pembangunan di daerah tertinggal. Namun membangun base transceiver base station (BTS) di daerah tertinggal dan terpencil tidak menghasilkan keuntungan bagi operator karena jumlah pelanggan di wilayah tersebut relative kecil. Padahal menurut International Telecommunication Union (ITU) peningkatan sebesar 1 persen dalam penetrasi telepon seluler di ssejumlah negara berkembang berkorelasi dengan peningkatan penghasilan per kapitas sebesar 4,7 persen. Industri telepon fixed line yang lebih dulu dikenal masyakat saat ini penetrasinya kurang dari 5 persen. Sementara menurut Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia (ATSI), industri seluler yang baru dikenal selama 15 tahun memiliki penetrasi mendekati 80 persen dengan jumlah pelanggan 180 juta[ii]. Namun kepemilikian telepon seluler ini masih tidak merata dan sebagian besar kepemilikannya masih berpusat di wilayah perkotaan.

Kompetisi sektor telekomunikasi di Indonesia dengan tujuan percepatan peningkatan teledensitas sejatinya akan meningkatkan ekonomi Indonesia khususnya di desa-desa, daerah tertinggal, perbatasan dan kepulauan serta membuka lapangan kerja baru pada industri telekomunikasi, memperkecil kesenjangan digital dan memajukan rakyat di pedesaan dengan teknologi telekomunikasi dan informasi. Contoh daerah yang berhasil keluar dari ketertinggalan berkat adanya sarana telekomunikasi dan informasi adalah Kabupaten Sambas. Melalui program bantuan Pembangunan Desa Informasi dari Departemen Komunikasi dan Informasi sejak tahun lalu sudah keluar dari status daerah tertinggal karena adanya bantuan teknologi informasi dan komunikasi sehingga desa-desa di Kabupaten Sambas menjadi masyarakat informasi yang mandiri. Masuknya teknologi telekomunikasi dan informasi membuat masyarakat yang ada di wilayah Sambas dapat lebih mudah memperoleh informasi. Pembentukan desa informasi yang pertama di Indonesia ini dilandasi denan keinginan untukmewujudkan adanya komunikasi yang lancar daninformasi yang segar secara merata di seluruh Indonesia, khususnya bagi daerah di wilayah perbatasan, terpencil, dan tertinggal.

DIGITAL DIVIDE DAN PASAR ASIMETRIS
Konvergensi teknologi telekomunikasi dan informasi diproyeksi dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kenyataannya, akses kepada teknologi tersebut belum merata. Bahkan negara dengan infrastruktur teknologi digital yang maju seperti Amerika Serikat masih terdapatan kesenjangan digital (digital divide) apalagi negara berkembang seperti Indonesia, digital divide ini pasti lebih lebar lagi. Terminologi kesenjangan digital (digital divide) diartikan sebagai kedaan dimana dunia terbagi dalam dua kelompok dari kemampuan mengakses teknologi telekomunikasi dan informasi seperti telepon seluler, internet, dan televisi. Kondisi ini biasanya terjadi di daerah perkotaan dan daerah pinggiran (termasuk daerah tertinggal). Kesenjangan digital ini pada akhirnya membuat kesenjangan akses masyarakat kepada informasi juga semakin lebar.
Adanya kesenjangan informasi ini melahirkan apa yang disebut sebagai hidden informasi (Hirshleifer & Riley, 1994: 307, menyebutnya hidden knowledge) adalah suatu transaksi yang salah satu pihak memiliki informasi lebih baik tentang transaksi tersebut. Pada kondisi ini berarti informasi tidak terdistribusi secara seimbang, yang kemudian dikenal sebagai ketidakseimbangan informasi. Informasi yang kurang lengkap membuat system insentif tidak bekerja sempurna. Bagi mereka, kegagalan mekanisme pasar disebabkan ketidaksanggupan melengkapi informasi. Maka tak aneh bila orang Perancis punya pepatah kuno: "orang bodoh lebih sering berperan sebagai pembeli daripada sebagai penjual".

Daerah perkotaan dengan akses informasi yang lebih baik memiliki peluang ekonomi lebih besar dibandingkan wilayah perdesaan yang rata-rata tertinggal. Hal inilah yang dirasakan China dan India, dimana posisi tawar masyarakat di daerah tertinggal selalu lebih lemah karena keterbatasan sarana telekomunikasi dan informasi.
Pemerintah China menyadari adanya gap antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Kesejangan kesejahteraan dan konektivitas nirkabel antara kota-kota di pesisir timur dengan daerah pedalaman di belahan barat China cukup signifikan. Bahkan menurut laporan Kementerian Industri Informasi (MII), penertrasi ponsel di Cina masih di bawah 40 persen, meski di sejumlah perkotaan mencapai 90 persen. Untuk mengatasi hal tersebut, Cina melaksanakan proyek yang bernama Wireless Reach, program ini bertujuan untuk memanfaatkan kemajuan teknologi nirkabel untuk kemajuan masyarakat yang berkesinambungan di tiga propinsi di barat China, yaitu Shaanxi, Guizhou, dan Ningxia. Bekerjasama dengan China Unicom dan sebuah lembaga swadaya masyarakat internasional, Planet Qualcomm menyumbangkan 2.000 ponsel CDMA2000 berikut kartu pra-bayar dan voucher isi ulang bulanan (berlaku hingga dua tahun) sumbangan China Unicom.
Penerima ponsel tersebut adalah petugas penyalur pinjaman keuangan mikro atau krediro dengan catatan kinerja baik dan terarut mengikuti program-program pelatihan Planet Finance. Voucher dari China Unicom mencakup layanan SMS mingguan, yang memungkinkan PlaNet Finance member informasi tentang harga danpinjaman kepada para mitra dan penerima pinjaman. Ponsel CDMA2000 sumbangan itu juga memperluas akses penerimanya pada pasar, hingga tidak perlu lagi melakukan perjalanan yang memakan waktu dan memudahkan menerima pinjaman dari keuangan makro. Adanya bantuan dari Pemerintah China dan operator seluler telah membantu pemerataan pendapatan ekonomi. Maka tak aneh bila China saat ini telah tumbuh menjadi raksasa terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat dengan total produk domestic bruto (PDB) nominal 5,7 triliun dollar AS sampai Oktober 2010. China juga memiliki cadangan terbesar di sunia yakni 2,65 triliun dolar AS atau sekitar 30 persen dari total cadangan devisa dunia (Bandingkan dengan cadangan devisa Indonesia yang sementara ini baru mencapai 91,8 miliar dollar AS).
Di India, petani pun bisa sukses berkat telepon seluler. Penggunaan ponsel di negara itu menjadi pendorong utama pertumbuhan pendapatan. Pengguna telepon seluler di wilayah-wilayah pedesaan di India paling menikmati layanan-layanan seperti informasi pertanian (40 persen), hiburan dan music (16 persen), dan jasa keuangan (8 persen), seperti untuk pembayaran dan pengiriman uang bergerak (e-banking). Para petani tembakau di kawasan India pendapatan hasil panennya meningkat sejak menggunakan internet dibandingkan dengan cara konvensional. Berkat system online yang di beri nama “e-shaupal” atas prakarsa Indian Tobacco Co (ITC) para petani di kawasan tersebut dapat langsung memasok kebutuhan ITC tanpa perantara. Dan berkat sistem ini pendapatan para petani tembakau naik hingga 25%.


USO DALAM MENGATASI DIGITAL DIVIDE DI DAERAH TERTINGGAL
Pasar yang tidak simetris menurut ekonom Stigler bahwa keterbatasan peran pasar akibat informasi yang tidak lengkap diharapkan bisa diatasi dengan regulasi yang dikenal dengan “teori ekonomi regulasi” dengan memusatkan perhatian untuk menerangkan siapa yang mendapat manfaat dan menanggung beban atas suatu regulasi.[iii] Lain ladang lain belalang, lain negara lain pula regulasi yang dikeluarkan Pemerintah Indonesia guna melakukan percepatan perekonomian daerah tertinggal yang dilaksanakan.

Salah satu upaya pemerintah di bidang telekomunikasi yang bertujuan mempercepat akselerasi pembangunan daerah tertinggal adalah melaksanakan program USO (Universal Service Obligation). Istilah Universal Service tercatat pertama kalinya dalam kosakata sektor telekomunikasi pada tahun 1907. Saat itu Presiden perusahaan telekomunikasi terkemuka AT&T, Theodore Vail, mempopulerkan slogan “One System, One Policy, Universal Service” dalam laporan tahunan perusahaan tersebut berturut-turut hingga tahun 1914. Program USO dibiayai oleh para penyelenggara telekomunikasi (penyelenggara jaringan telekomunikasi dan atau penyelenggara jasa telekomunikasi) yang beroperasi di Indonesia. Caranya dengan melakukan pembayaran kontribusi kewajiban pelayanan universal (KKPU) kepada pemerintah setiap triwulan, yang besarnya dihitung berdasarkan prosentase tertentu dari pendapatan kotor penyelenggara telekomunikasi setiap tahun buku.
Melalui Peraturan Menteri Komunikasi Dan Informatika Nomor: 05 /PER/M.KOMINFO/2/2007, 28 Februari 2007, ditegaskan bahwa perhitungan pembayaran KKPU oleh penyelenggara telekomunikasi dilaksanakan berdasarkan perhitungan sendiri (self assessment) dengan menggunakan laporan keuangan yang ditandatangani oleh pejabat perusahaan yang berwenang. Pembayaran kepada pemerintah dilakukan melalui Kas BTIP, PPK-BLU (Balai Telekomunikasi dan Informatika Perdesaan, Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum) melalui rekening Kepala BTIP Ditjen Postel pada Bank Pemerintah. Kewajiban USO dari penyelenggara telekomunikasi awalnya 0,75% sekarang naik menjadi 1,25 persen untuk akselerasi pembangunan backbone telekomunikasi.
Ada beberapa tujuan dalam pelaksanaan program USO di antaranya :
a. meningkatkan produktifitas dan pertumbuhan ekonomi daerah-daerah tertinggal;
b. mengurangi kesejangan digital (digital divide) antara wilayah perkotaan dengan daerah pinggiran;
c. meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat di daerah teringgal;
d. menghilangkan kesenjangan sosial dan asismetris informasi dalam kegiatan ekonomi;
e. mengurangi pengangguran dengan menciptakan lapangan kerja di daerah; dan
f. mengurangi arus urbanisasi serta pemerataan populasi.

Negara Inggris termasuk salah satu negara industri maju dengan pendapatan perkapita penduduknya mencapai US$ 35,286 yang sudah menerapkan USO sejak beberapa tahun lalu. Ofcom (office of communications) yang merupakan lembaga regulasi telekomunikasi dan penyiaran di Inggris mendifinisikan bahwa Universal Service adalah menyediakan jaringan telekomunikasi yang aman dan dapat menjamin layanan basic fixed line tersedia dengan harga yang terjangkau bagi semua warga negara Inggris. Pertimbangan keadilan sosial dan kebutuhan ekonomi merupakan dua pertimbangan bagi penyelenggaraan USO.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Ericsson, Earth Institute, dan Milennium Promise, telepon seluler juga mendatangkan manfaat social dan financial bagi penduduk pedesaan di daerah-daerah tertinggal[iv]. Tersedianya layanan seluler di daerah tertinggal meningkatkan berbagai layanan social, seperti kesehatan, pendidikan,dan pengembangan usaha kecil. Telepon seluler sedikitnya 6.000 orang per tahun bisa diselamatkan di negara-negara yang disurvei. Hasil penelitian itu menunjukkan usaha kecil juga merasakan manfaat, khususnya dalam menghemat biaya-biaya transportasi. Tiga dari empat orang yang disurvei juga merasakan manfaat sosial atau finansial dengan menggunakan telepon seluler.


AKAHKAN USO MENYELESAIKAN MASALAH?
Uso ora iso di atas merupakan plesetan dari iso ora iso dalam bahasa Jawa yang artinya bisa atau tidak bisa? Sanggupkah USO untuk mempercepat pembangunan ekonomi di daerah-daerah tertinggal?
Tanyakanlah pada rumput yang bergoyang, begitu mungkin kata sebagian orang. Tapi penulis punya jawaban sendiri, bahwa tentu saja tidak bisa bila hanya mengandalkan USO untuk mengangkat perekonomian daerah. Perlu pemberdayaan masyarakat (SDM) di daerah-daerah tertinggal tersebut. Bahwa selama ini ada salah kaprah yang menganggap teknologi sebagai dewa yang membawa perubahaan di masyarakat. Pemberlakuan paham determinisme teknologi ini dapat dikenali misalnya dalam pernyataan seperti “USO akan memberantas ketertinggalan daerah” atau “teknologi informasi akan mencerdasakan masyarakat”, atau “penguasaan sains dan teknologi akan memajukan daerah-daerah tertinggal”. Pernyataan-pernyataan tersebut jelas menunjukkan bahwa teknologi menyebabkan perubahan sosial. USO menyarankan suatu determinisme teknologi, bahwa teknologi akan mengubah perilaku para pembuat keputusan dalam organisasi masyarakat di daerah tertinggal. Ini kesalahan umum para pemangku kebijakan (stakeholders) bahwa dengan implementasi teknologi telekomunikasi di suatu daerah tertinggal maka daerah itu akan maju karena teknologi memaksa masyarakat untuk mengikutinya.
Hal ini dalam analisis Andrew Feenberg ditemukan setidaknya ada dua premis yang menunjukkan kelemahan dari paham determinasi teknologi. Pertama, bahwa teknologi berkembang secara uniliner atau garis lurus dari teknologi yang sederhana menuju kompleks. Kedua, bahwa masyarakat dalam paham ini bersikap pasif dan menerima begitu saja teknologi yang ada. Maka lahirlah paham Social Construction of Technologi (SCoT) yang dipelopori Wiebe Bijker dan Trevor Pinch bahwa masyarakatlah yang menentukan apakah suatu teknologi itu diterima atau tidak. SCoT merupakan suatu deteriminisme sosial, memberlakukan determinasi yang berlawanan arah dengan determinisme teknologi. Dalam determinisme sosial, bahwa kehendak dan keputusan masyarakatlah yang menentukan efek-efek dari kehadiran teknologi. Dalam model ini, teknologi dipandang sebagai alat atau media yang patuh terhadap kehendak sosial.
Paham SCoT yang dijelaskan diatas pun masih mengalami beberapa kritikan. Langdon Winner mengkritik SCoT terlalu apolitis dan tidak menghiraukan konsekuensi sosial dan pilihan teknologi. Sedangkan Hans Klein dan Daniel Kleineman mengkritik karena peran individu terlalu besar dibandingkan peran struktur sosial itu sendiri. Klein dan Kleineman juga menyoroti satu fator penting yang berperan besar dalam perkembangan teknologi adalah factor kekuasaan. SCoT mengesamping adanya kekuasaan yang menggerakan perubahan sosial dan terlalu menitikberatkan pada kemampuan individu untuk menggerakkan perubahan sosial.
Kekuasaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia[v] adalah kuasa (untuk mengurus, memerintah, dsb), bisa juga berarti kemampuan; kesanggupan. Dari kedua definisi tersebut dapat dianologi bahwa kekuasaan terletak pada Pemerintah (yang mempunyai kuasa) dan operator seluler yang mempunyai kemampuan atau kesanggupan dalam menyediakan layanan teknologi telekomunikasi dan informasi. Sehingga kekuasaan dalam mengenalkan teknologi dalam ini dilakukan oleh Pemerintah yang mempunyai wewenang untuk memerintah dan operator seluler yang mempunyai kemampuan untuk menyediakan teknologi tersebut.

CSR SEBAGAI PENDUKUNG USO
USO hanyalah sebuah teknologi telekomunikasi backbone. Bahwa teknologi hanya sebagai alat bukan tujuan (technology is tools not goal) tetapi orang yang mengoperasikan teknologi tersebut (man behind machine). Seperti juga dikemukan oleh Bill Gates : “Technology is just a tool. In terms of getting the kids together and motivating them, the teacher is the most important.”
Sama halnya dengan USO, semua tergantung dari pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Dalam Jejaring-aktor atau Actor Network Theory (ANT) disebutkan bahwa antara dunia sosial dengan sains dan teknologi, terjalin relasi-relasi yang membangun hibrida sosio-teknis. Bahwa keberhasilan program USO melibatkan relasi-relasi dari aktor-aktor yaitu Pemerintah (regulator), operator seluler (produsen), masyarakat (user) serta teknologi backbone itu sendiri. Bahwa entitas manusia dan non-manusia yang mendorong dan terlibat atau dilibatkan dalam proses ini menjadi saling terpautkan dan mengalami perkembangan melalui interaksi-interaksinya.
Interaksi antara pemerintah dan operator seluler, Pemerintah Indonesia bisa meniru kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah China dengan menggandeng operator seluler dan industri perbankan untuk menyediakan telepon seluler gratis yang dibagikan kepada penyuluh di daerah. Pemerintah juga perlu menggandengkan industri perbankan untuk membantu penyaluran kredit mikro di daerah tertinggal. Penyuluh juga dapat berperan sebagai penyalur pinjaman mikro untuk pengembangan kegiatan ekonomi di daerah yang perlu diatur lagi dalam pelaksanaannya. Adanya bantuan telepon gratis ini maka penyuluh akan dapat membantu memberi pelatihan kepada masyarakat. Seperti efek domino atau getuk ular, pengetahuan tersebut akan disebarkan kepada masyarakat yang lain. Sehingga pada akhirnya para petani dapat memonitoring harga-harga hasil tani di daerah sekitarnya untuk mencari pembeli yang terbaik. Juga dapat digunakan untuk menegosiasikan harga serta menjadi media promosi yang efisien dan efektif. Tak aneh kelak para petani mempromosikan produknya melalui website, blog, facebook, atau twitter. Contohnya ada beberapa industri skala rumah tangga yang bisa mengekspor produknya ke mancanegara berkat menggunakan media promosi melalui internet (penetrasi internet di Indonesia sendiri masih jauh di bawah negara-negara tetangga, yakni di bawah 10 persen. Sedangkan Malaysia dan China sudah di atas 50 persen. Apalagi jika dibanding negara-negara maju, yang mencapai 70 persen lebih, Indonesia jauh tertinggal).
Namun, ketersediaan akses terhadap teknologi informasi saja tidak cukup karena tidak semua orang khususnya masyarakat yang baru mengenal teknologi informasi untuk pertama kali langsung merasa perlu sesuai kebutuhannya. Masih banyak warga di daerah tertinggal dan daerah pedalaman yang belum pernah mengoperasikan bahkan mengenal telepon seluler. Artifak teknologi tersebut masih dianggap sebagai benda asing yang belum diketahui apa manfaatnya buat mereka. Selama ini mereka masih melakukan cara berkomunikasi secara konvensional seperti tatap muka (face to face) atau surat menyurat.
Inilah perlunya interaksi antara Pemerintah dan operator seluler dengan masyarakat pengguna melalui program pendampingan. Pendampingan yang erat terhadap pemanfaatan teknologi merupakan faktor penting. Tanggung jawab ini tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada Pemerintah mengingat keterbatasan SDM dan dana yang ada pada instansi-instansi terkait. Dalam ANT, operator seluler sebagai produsen memiliki peran penting untuk mendorong interaksi antara masyarakat dengan teknologi yang ada dalam program USO.
Peran operator seluler selain diperlukan melalui keikutsertaan dalam program USO, juga diperlukan dalam program pendampingan. Operator seluler dapat membantu program pendampingan ini melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). CSR merupakan salah satu bentuk program bakti sosial sebagai bentuk kontribusi operator seluler kepada masyarakat. Operator seluler dapat memberdayakan SDM yang ada di dalam ada di luar organisasi untuk mensosialisasikan USO. Seperti dijelaskan sebelumnya, agar USO bisa sukses diterima oleh masyarakat perlu dilakukan pendekatan sosial kepada para pelaku kegiatan ekonomi di daerah.
Dalam undang-undang no. 16 tahun 2006 tantang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, disebutkan bahwa penyuluh adalah perorangan warga Indonesia yang melakukan kegiatan penyuluhan dibidang pertanian, baik merupakan penyuluh PNS, swasta maupun swadaya. Adapun yang menjadi tugas pokok penyuluh adalah menyiapkan, melaksanakan, mengembangan, mengevaluasi dan melaporkan kegiatan penyuluhan pertanian, sehingga penyuluh dituntut mampu melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai penyuluh dilapangan dengan menjadi mitra kerja petani yang berperan sebagai fasilitator. Jadi tenaga penyuluh menurut undang-undang ini bisa melalui peran serta Pemerintah atau operator seluler.
Operator seluler dapat menyediakan tenaga penyuluh yang mengerti mengenai teknologi telekomunikasi dan informasi serta potensi yang ada di daerah setempat seperti pertanian, peternakan, dan perikanan (e-education). Banyaknya lulusan sarjana bidang tersebut dapat membantu mendampingi masyarakat di daerah pedalaman dan tertinggal agar dapat memahami teknologi telekomunikasi dan informasi seperti pemanfaatan telepon seluler, word processor, browsing, sms, bahkan e-commerce. Dewasa ini dapat dikatakan bahwa para sarjana sudah menguasai dasar-dasar teknologi telekomunikasi dan informasi tersebut. Ini dapat meningkatkan SDM di daerah sekaligus mengurangi pengangguran serta urbanisasi. Jarak dan waktu tidak lagi menjadi masalah dengan adanya teknologi telekomunikasi dan informasi. Pendampingan juga dapat dilakukan dengan menugaskan petugas dari operator seluler untuk membantu pelatihan dan pemahaman terhadap teknologi tersebut.
Selain pendampingan, operator CSR dapat membantu masyarakat di daerah-dearah tertinggal dengan memberikan bantuan telepon seluler seperti yang dilakukan Planet Qualcomm di China tentu saja melalui seleksi dan penilaian yang dilakukan oleh para penyuluh. Hanya warga masyarakat yang memenuhi kriteria tertentu yang bisa memperoleh bantuan telepon seluler gratis. Selain itu perlu subsidi voucher pulsa gratis selama beberapa bulan untuk membantu masyarakat berkomunikasi. Bantuan dalam bentuk genset atau panel tenaga surya juga diperlukan untuk mengatasi kendala keterbatasan sumber daya listrik. Suatu paradoks bila suatu daerah telah memiliki USO namun masyarakat tidak dapat memanfaatkannya karena tidak ada listrik untuk mengoperasikannya. Telepon seluler pun akhirnya jadi artifak teknologi yang tidak berguna karena masyarakat tidak dapat mengisi ulang baterainya.
Operator seluler juga dapat mengembangkan pusat kegiatan (community center) dimana terdapat kegiatan belajar mengajar, diskusi, pengenalan intenet, serta penyuluhan yang bisa melibatkan banyak warga masyarakat di daerah tertinggal. Bila community center ini bisa berjalan dengan baik maka bisa ditingkat dengan membangun hot-spot agar terkoneksi dengan internet. Hal serupa juga sedang dikembangkan negara tetangga Malaysia melalui kegiatan kampong wifi-nya. Operator seluler juga dapat menyediakan konten-konten gratis yang berhubungan dengan informasi pertanian, perikanan, dan kehutanan. Seperti hasil survei di daerah-daerah tertinggal di India bahwa sekitar 40 persen pengguna telepon seluler mengakses informasi mengenai pertanian. Tidak salah bila teknologi telekomunikasi dan informasi menjadi kunci percepatan dalam pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) pada tahun 2015.
Satu hal lagi, percepatan perekonomian daerah tertinggal dapat dilakukan melalui penyaluran kredit usaha mikro dengan perantara para tenaga penyuluh seperti yang dilakukan oleh Pemerintah China. Penyuluh inilah yang berhubungan dengan pihak perbankan untuk menyalurkan kredit mikro tersebut. Para penyuluh melakukan penilaian terhadap para calon debitur apakah layak untuk menerima kredit atau tidak. Pihak operator seluler juga bisa menjadi kreditur dalam pendanaan kredit mikro ini karena jumlah dana yang disalurkan relatif kecil namun jumlah tersebut sangat berarti bagi masyarakat di daerah-daerah tertinggal. Bisa dibayangkan berapa banyak warga masyarakat yang terbantu melepaskan diri dari jerat kemiskinan melalui program USO dan CSR ini.
USO ora iso, CSR iso. Peran operator seluler melalui CSR pada akhirnya bisa memaksimalkan USO, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memajukan perekonomian daerah tertinggal. Selain itu, kerjasama dan interaksi intensif para aktor dalam ANT juga membantu mempercepat pencapaian tujuan program USO. Maka kelak orang tak lagi mengenal CHINDIA (yaitu kekuatan ekonomi China dan India) tetapi CHINESIA (kekuatan ekonomi China dan Indonesia).








Jumat, 14 Mei 2010

Remaja dan Rokok

Remaja dan Rokok

Lindungi Remaja dari Bahaya Rokok

Remaja sudah seharusnya dilindungi dari bahaya rokok. Rokok telah mengancam sebagian besar remaja Indonesia. Tulisan ini dimaksud untuk menggambar besarnya bahaya rokok. Di AS dan Eropa ada kecenderungan menurunnya jumlah perokok namun di Indonesia justru sebaliknya, menunjukkan trend yang meningkat.